Pidato kelulusan siswa terbaik di North Carolina dihentikan karena tidak sesuai naskah

Seorang siswa terbaik lulusan sekolah menengah di North Carolina dihentikan di tengah pidatonya setelah menyimpang dari naskah yang telah disetujui dalam upacara kelulusan. Leen Hijaz mengkritik kebijakan terkait ICE dan menyatakan dukungannya terhadap Palestina dalam acara pada 28 Mei tersebut. Pihak sekolah kemudian mengonfirmasi bahwa ia telah menerima ijazahnya.

Leen Hijaz, seorang siswa Muslim di Clayton High School di Johnston County, meninggalkan pidato yang telah disetujui sebelumnya dan membahas berbagai isu, termasuk penderitaan rakyat di Palestina serta keluarga yang terdampak oleh penegakan hukum ICE. Ia menyatakan bahwa setiap orang memiliki suara untuk digunakan ketika orang lain di seluruh dunia berjuang untuk didengar. Para lulusan lainnya tampak bingung saat Hijaz melanjutkan pidatonya, yang memicu Kepala Sekolah Melissa Hubbard untuk turun tangan dan mengakhiri pidato tersebut. Video insiden ini beredar luas di media sosial. Hijaz kemudian mengunggah pernyataan di TikTok yang menuduh pihak sekolah bersikap rasis dan mengklaim ijazahnya ditahan. Johnston County Public Schools mengonfirmasi bahwa ijazah tersebut telah diberikan. Pihak pimpinan sekolah menyatakan bahwa para administrator bertindak untuk menjaga fokus dan integritas acara, bukan untuk membatasi ekspresi siswa.

Artikel Terkait

Dramatic courtroom illustration of an immigration judge issuing a final removal order against Syrian-born Columbia protest organizer Mahmoud Khalil.
Gambar dihasilkan oleh AI

Immigration appeals board denies Mahmoud Khalil’s appeal, issuing final removal order

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI Fakta terverifikasi

The Board of Immigration Appeals has issued a final order of removal against Mahmoud Khalil, a Syrian-born U.S. lawful permanent resident and prominent Columbia University protest organizer, according to his lawyers. Khalil and his attorneys say the case is politically motivated and plan to continue challenging it in federal court, where a separate proceeding has so far prevented his immediate deportation.

Rumeysa Ozturk, a Turkish student at Tufts University, has returned home to Turkey following a legal settlement with United States authorities. Her student visa was revoked in 2024 after she co-authored an op-ed calling for divestment from companies tied to Israel. She was detained for six weeks in 2025 before being released.

Dilaporkan oleh AI

Nazife from Uppsala was shocked during her internship when a customer questioned her veil and said she was not allowed to work behind the counter.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak