Kebijakan fiskal Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang dikenal sebagai 'Purbaya Effect', mulai menunjukkan dampak positif pada ekonomi nasional, terutama melalui peningkatan kredit BUMN. Namun, para ekonom menilai daya beli masyarakat Indonesia masih belum pulih sepenuhnya. Konsumsi rumah tangga, motor utama perekonomian, belum tumbuh optimal karena kurangnya kepercayaan terhadap prospek pendapatan masa depan.
Jakarta, VIVA – Meski kebijakan fiskal Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mulai menunjukkan hasil positif terhadap pertumbuhan ekonomi, sejumlah ahli menilai daya beli masyarakat masih belum pulih sepenuhnya. Kondisi ini membuat konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi motor utama perekonomian Indonesia, belum mampu tumbuh secara optimal.
Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Lutfi Ridho menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya memperkuat konsumsi rumah tangga, namun kuncinya ada pada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap prospek pendapatan mereka di masa depan. “Mereka harus yakin terutama keyakinan pendapatan di masa yang akan datang,” kata Lutfi di Jakarta, pada Rabu, 13 November 2025.
Menurut Lutfi, optimisme publik terhadap kestabilan pendapatan menjadi faktor penting agar konsumsi kembali meningkat. Ia mengatakan DEN kini memfokuskan perhatian pada peningkatan kepercayaan masyarakat dan stabilitas ekonomi rumah tangga. “Kalau kepercayaan itu terbentuk, konsumsi rumah tangga bisa kembali jadi motor utama pertumbuhan ekonomi, meski investasi masih akan jadi pendorong utama tahun depan,” ujarnya.
Lutfi menilai bahwa berbagai kebijakan fiskal yang dijalankan pemerintah, termasuk program yang dikenal dengan sebutan ‘Purbaya Effect’, telah memberi dorongan bagi sektor perbankan dan investasi. Namun, tanpa peningkatan konsumsi dari masyarakat, efek tersebut belum bisa terasa secara menyeluruh di lapisan bawah.
Sementara itu, Kepala Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip menilai kebijakan Menkeu Purbaya sudah mulai menampakkan dampak positif terhadap perekonomian nasional. Ia menyebut, penyaluran kredit ke badan usaha milik negara (BUMN) melonjak tajam pada September 2025, menandakan efek kebijakan mulai bekerja. “Kenapa saya bilang ini Purbaya efek sudah bekerja? Karena sebagian besar sumber pertumbuhan kredit perbankan itu masih dari kepada debitur BUMN. Dari (pertumbuhan) 1,9 persen (Agustus 2025), menjadi 10,04 persen (September 2025),” ujar Sunarsip.
Selain kredit ke BUMN, sektor swasta juga menunjukkan sedikit peningkatan, yakni dari 11,07 persen menjadi 11,12 persen. Namun, menurutnya, porsi pertumbuhan tersebut masih lebih banyak ditopang oleh kredit ke korporasi besar ketimbang pelaku usaha swasta.
Kebijakan ‘Purbaya Effect’ sendiri merupakan hasil dari penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Langkah ini bertujuan memperkuat likuiditas perbankan agar bisa lebih agresif menyalurkan kredit dan menggerakkan sektor riil.