Lebih dari sebulan setelah Topan Sinlaku melanda Pasifik Barat, penduduk Kepulauan Mariana Utara dan wilayah sekitarnya masih menghadapi pemadaman listrik yang meluas serta kerusakan tempat tinggal.
Badai tersebut mendarat pada 14 April di Persemakmuran Kepulauan Mariana Utara setelah menguat drastis sebesar 75 mil per jam dalam waktu 24 jam. Badai ini mencapai puncak kecepatan angin 185 mil per jam, menjadikannya badai terkuat di Bumi tahun ini. Korban jiwa di Guam, Kepulauan Mariana Utara, dan Negara Federasi Mikronesia telah mencapai 17 orang, jumlah tertinggi di wilayah tersebut sejak 2002.