Allah SWT menyukai orang-orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh. Dalam ajaran Islam, taubat nasuha memiliki makna mendalam sebagai taubat yang jujur dan membersihkan dosa masa lalu. Artikel ini menjelaskan dalil dan syarat taubat berdasarkan Alquran, hadits, dan penjelasan ulama.
Allah SWT menyukai orang-orang yang bertaubat, sebagaimana disebutkan dalam ajaran Islam. Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashaih al-Ibad meriwayatkan hadits dari Abu Abbas yang menyatakan, "Allah lebih senang pada taubatnya seorang hamba yang bertobat melebihi senangnya orang haus yang menemukan air, atau orang mandul yang memiliki anak, atau senangnya orang yang kehilangan barang lalu menemukannya. Maka, barang siapa yang bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha, Allah akan membuat lupa para malaikat yang menjaganya, anggota tubuhnya, serta bumi yang dipijaknya atas dosa dan kesalahan yang telah dia lakukan."
Dalil taubat nasuha terdapat dalam surat at-Tahrim ayat 8, di mana Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha (taubat yang semurni-murninya)." Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa taubat nasuha adalah taubat yang jujur, didasari tekad kuat, menghapus kejelekan masa silam, dan mengangkat pelakunya dari kehinaan.
Kitab Riyadh as-Shalihin menjelaskan syarat taubat untuk kemaksiatan yang hanya menyangkut urusan dengan Allah: pertama, berhenti melakukan maksiat; kedua, menyesal atas perbuatan tersebut; ketiga, berniat tidak mengulanginya selamanya. Jika taubat melibatkan hak sesama manusia, ditambah syarat meminta kehalalan dari yang dizalimi.
Rasulullah SAW mengajarkan untuk mengiringi keburukan dengan kebaikan agar keburukan itu terhapus. Sebagaimana sabda Nabi dari Abdullah bin Umar, "Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama ruhnya belum sampai di kerongkongan." Manusia selalu bisa kembali ke cahaya Allah, tak peduli seberapa gelap masa lalunya.