Industri baja dalam negeri menghadapi tekanan keras akibat membanjirnya produk impor. Pemerintah membuka peluang investasi asing untuk membangun pabrik di Indonesia. Namun, seorang pengusaha lokal mendesak pemerintah untuk menciptakan pengusaha baru domestik guna memperkuat manufaktur.
Jakarta, VIVA – Kondisi industri baja Indonesia saat ini tengah menghadapi tekanan keras akibat membanjirnya produk impor. Pemerintah bahkan membuka keran investasi asing bagi investor yang berminat membangun pabrik di dalam negeri.
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menyatakan bahwa pihaknya telah kedatangan sejumlah investor dari Eropa, China, dan Vietnam yang berminat merelokasi pabrik baja mereka ke Indonesia. "Kami minta supaya mereka berinvestasi di Indonesia, bangun pabrik di Indonesia, sehingga mereka juga punya akses ke pasar domestik," kata Faisol usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPR RI, Senayan, Jakarta, pada Kamis, 13 November 2025.
Merespons hal tersebut, Chief Executive Officer (CEO) PT Inerco Global International, Hendrik Kawilarang Luntungan, menegaskan bahwa pemerintah seharusnya tidak hanya berfokus pada investor asing. Menurutnya, pemerintah harus lebih berupaya menciptakan pengusaha-pengusaha baru di dalam negeri yang fokus pada sektor manufaktur domestik. "Harusnya pemerintah menciptakan pengusaha-pengusaha baru dengan bimbingan pemerintah, seperti yang tercipta di China, Jepang, dan Korea dimana mereka maju industri manufakturnya," kata Hendrik.
Ia menambahkan, "Karenanya pemerintah harus terjun langsung membimbing agar menyesuaikan dengan target pemerintah sendiri, guna menjadikan Indonesia negara industri dalam 10 tahun ke depan." Hendrik juga menyoroti akar masalah pada sistem penyaluran kredit perbankan, di mana kredit dari bank besar hanya diberikan kepada pengusaha besar atau titipan politisi. "Akibatnya, tidak ada pemerataan, tidak lahir para pengusaha baru. Kebijakan ini membuat orang kaya makin kaya dan orang miskin dan menengah akan mustahil masuk ke dalam kategori orang kaya," katanya.
Untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang stagnan di angka 5 persen, Hendrik menekankan perlunya konglomerasi baru di luar yang sudah ada. "Capek saja kita lihat ada mall baru atau hotel baru atau real estate baru, kalau kita tanya punya siapa, selalu jawabannya dia lagi, dia lagi. Ini fakta," ujarnya.