Dalam sebuah episode podcast, Lisa Ryden dari Tetra Pak menguraikan upaya perusahaan untuk menurunkan dampak lingkungannya melalui laporan keberlanjutan 2021. Pembahasan mencakup target pemangkasan emisi dan perbaikan daur ulang di tengah tantangan di pasar AS. Tetra Pak menyoroti inovasi seperti bahan berbasis tanaman untuk memajukan kemasan berkelanjutan.
Lisa Ryden, yang menjabat sebagai Direktur Pengembangan Berkelanjutan di Tetra Pak dan kini Wakil Presiden Keberlanjutan Sosial, bergabung dengan Earth911 untuk podcast yang membahas laporan keberlanjutan korporat perusahaan tahun 2021. Tetra Pak, produsen karton terbesar di dunia, menjual 183 miliar karton pada 2020, dengan merek tersebut sering disebut hanya 'Tetra' di berbagai wilayah.
Perusahaan menetapkan target ambisius untuk 2030, termasuk pengurangan emisi karbon 46% dari level 2019 dan mencapai net-zero untuk emisi Scope 1 dan 2 pada akhir dekade. Kemajuan terbaru mencakup peluncuran karton berbasis tanaman menggunakan bahan terbarukan dan pengiriman 12 miliar tutup berbasis tanaman. Tetra Pak juga beralih dari lapisan aluminium ke opsi polimer dengan jejak karbon 25% lebih rendah. Emisi CO2 mencapai puncak pada 2010, dan dalam sepuluh tahun terakhir, limbah makanan dalam manufaktur turun 50%.
Karton menawarkan alternatif berbasis serat untuk plastik pada sebagian besar minuman dan makanan, kecuali minuman berkarbonasi, dan Tetra Pak baru-baru ini meluncurkan solusi untuk kemasan keju. Secara global, perusahaan bermitra dengan lebih dari 170 pengolah daur ulang, mencapai tingkat daur ulang 27% untuk karton 2020-nya. Targetnya adalah 70% daur ulang di Eropa pada 2030.
Namun, daur ulang di AS tertinggal dengan hanya empat fasilitas pengolahan, sering kali memerlukan pengiriman hingga seribu mil, yang merusak keberlanjutan. Episode tersebut, yang tayang perdana pada 13 Desember 2021, memberikan wawasan tentang tantangan dan kemajuan yang sedang berlangsung ini.