Dalam ajaran Islam, hadits shahih menyatakan bahwa orang fakir akan memasuki surga sebelum orang kaya dengan jarak 500 tahun. Kiai Ali Mustafa menjelaskan bahwa hal ini tidak menurunkan nilai orang miskin di hadapan Allah, melainkan menonjolkan keutamaan mereka.
REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Hadits shahih menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw berdoa kepada Allah Swt agar dilindungi dari kemiskinan dan kefakiran. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti orang miskin atau fakir memiliki nilai rendah di sisi Allah.
Bahkan, hadits shahih lainnya menyatakan bahwa orang-orang fakir akan memasuki surga lebih dahulu sebelum orang kaya, dengan selisih waktu 500 tahun. “Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang faqir itu memiliki nilai lebih dibanding orang-orang kaya, meskipun keduanya sama-sama masuk surga,” kata Kiai Ali Mustafa, dikutip dari buku “Hadis-Hadis Bermasalah” karya Prof KH Ali Mustada Yaqub.
Menurut Kiai Ali Mustafa, keutamaan ini timbul dari dua kemungkinan. Pertama, seperti penumpang bandara yang tidak membawa barang bawaan apa pun, orang fakir masuk surga tanpa pemeriksaan panjang karena tidak memiliki harta untuk diperiksa. Sebaliknya, orang kaya harus menjalani pemeriksaan teliti atas kekayaannya, sehingga tertahan lebih lama.
Kedua, kelebihan ini berlaku jika orang fakir menyikapi kemiskinannya dengan ikhlas dan sabar setelah berusaha maksimal mengangkat diri dari kemiskinan. Alquran menegaskan bahwa manusia cenderung mencintai harta dan lalai terhadap akhirat karena kesibukan duniawi. Jika usaha keluar dari kemiskinan gagal, menerimanya dengan sabar menjadi nilai tambah. “Maka itulah salah satu nilai lebih bagi orang miskin,” jelas Kiai Ali Mustafa.