Trump accuses China of interfering in 2020 US presidential race

US President Trump accused China of interfering in the 2020 presidential election during a White House address, claiming Beijing obtained 220 million voter files.

Trump delivered a nearly 30-minute prime-time address from the White House on Thursday Washington time, accusing China of interfering in the 2020 US presidential race that he lost to Joe Biden.

He claimed Beijing orchestrated “what is believed to be the largest compromise of election data in history”, resulting in the “illicit acquisition” of 220 million US voter files.

The US president also argued that intelligence documents revealed “shocking vulnerabilities” in the country’s election infrastructure, leaving it exposed to “hacking, exploitation, and foreign interference”.

Political scientist Zheng Yongnian said the allegations are campaign rhetoric and not likely to affect ties with Beijing, adding that Washington should reflect on reforming its own democracy.

Artikel Terkait

President Trump speaking at the White House about election security vulnerabilities.
Gambar dihasilkan oleh AI

Trump peringatkan kerentanan pemilu dalam pidato primetime

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Presiden Trump menyampaikan pidato primetime pada Kamis malam dari Gedung Putih terkait keamanan pemilu AS. Ia menyoroti dugaan campur tangan asing dan menyerukan pengesahan SAVE America Act. Pidato tersebut disampaikan beberapa bulan menjelang pemilihan paruh waktu.

The White House released declassified intelligence documents on July 18 detailing China’s collection of US voter data. The records do not support claims that Beijing hacked the 2020 election.

Dilaporkan oleh AI

Presiden Donald Trump menuduh Tiongkok melakukan kegiatan terkait pemilu yang bertujuan untuk melemahkan pemerintahan pertamanya dan kampanye tahun 2020. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato di Gedung Putih pada 16 Juli 2026. Pejabat pemerintahan kemudian meminimalkan fokus pada Beijing sembari mengonfirmasi kunjungan mendatang pemimpin Tiongkok Xi Jinping.

Sebuah kolom opini Daily Wire menyebut bahwa Presiden Donald Trump berencana untuk mengangkat kasus hak asasi manusia tertentu—termasuk kasus pendiri Zion Church yang ditahan, Pendeta Ezra Jin Mingri—selama pertemuan mendatang dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping di Beijing.

Dilaporkan oleh AI

Chinese foreign ministry spokesman Guo Jiakun said on Thursday that Beijing’s opposition to official US exchanges with Taiwan remains firm. The statement follows concerns over a possible call between US President Donald Trump and Taiwan’s Lai Ching-te after Trump’s recent summit with Xi Jinping in Beijing.

Presiden Donald Trump bertemu dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping di Beijing pekan ini untuk melakukan pembicaraan yang berfokus pada perdagangan, investasi, dan masalah keamanan regional. Kedua pemimpin membahas potensi kesepakatan namun hanya mencatat kemajuan konkret yang terbatas.

Dilaporkan oleh AI

Survei terbaru POLITICO menyoroti perpecahan mendalam antara Demokrat dan Republik mengenai apa yang mengancam integritas pemilu AS menjelang pemilu sela 2026. Lebih dari sepertiga warga Amerika yakin pemilu tersebut dapat dicurangi, meskipun kedua partai sangat tidak sepakat mengenai risiko utamanya. Jajak pendapat yang dilakukan pada pertengahan April ini menggarisbawahi ketidakpercayaan yang terus berlanjut terhadap sistem pemungutan suara.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak