Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis pada Senin (9/2/2026) di tengah tekanan dari penurunan outlook kredit Indonesia oleh Moody’s menjadi negatif. Meski fundamental ekonomi domestik tetap solid, pelaku pasar mencermati risiko konsolidasi lebih lanjut. Sentimen global juga memengaruhi pergerakan pasar saham.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat 19,04 poin atau 0,24 persen ke level 7.954,30 pada Senin (9/2/2026). Kelompok saham unggulan LQ45 juga naik 2,60 poin atau 0,32 persen menjadi 818,18. Namun, proyeksi pergerakan IHSG diprediksi volatil karena pelaku pasar mencermati hasil penilaian lembaga pemeringkat global terhadap pasar keuangan Indonesia, termasuk isu MSCI dan downgrade oleh Goldman Sachs, UBS, serta Nomura. Moody’s menurunkan outlook kredit sovereign Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun mempertahankan peringkat Baa2. Outlook negatif ini juga memengaruhi sejumlah perusahaan seperti BMRI, BBRI, BBNI, BBCA, BBTN, TLKM, ICBP, dan UNTR, termasuk entitas seperti Telkomsel, Pertamina, serta MIND ID, dengan risiko penurunan peringkat meningkat jika kredibilitas kebijakan, konsistensi fiskal, dan komunikasi pemerintah tidak membaik. Analis Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyatakan, “IHSG dalam waktu dekat berupaya naik kembali ke atas level psikologis 8.000 serta menutup gap di level 8.102 sebagai resistance pertama. Namun, Kiwoom Research juga mengingatkan masih adanya risiko konsolidasi lanjutan ke arah 7.710–7.480 jika support 7.860 kembali runtuh.” BEI merespons dengan aturan baru free float IPO minimal 15–25 persen sesuai kapitalisasi pasar, sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempertahankan ketentuan lama 7,5 persen untuk IPO kuartal I 2026. Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmen menjaga stabilitas rupiah dan inflasi melalui pendekatan pro-growth, dengan hasil stress test menunjukkan capital adequacy ratio (CAR) 26 persen dan rasio likuiditas 28 persen. Fundamental ekonomi tetap kuat, dengan pertumbuhan PDB kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen (tahunan 5,11 persen), defisit APBN 2,92 persen, dan rasio utang 40 persen terhadap PDB. Danantara memulai fase pertama enam proyek hilirisasi senilai 7 miliar dolar AS, diproyeksikan ciptakan 3.000 lapangan kerja. Di pasar global, Wall Street menguat pada Jumat (6/2/2026) dengan Dow Jones naik 2,47 persen ke 50.115,67, sementara bursa Asia pagi ini juga positif seperti Nikkei naik 4,57 persen. Fokus pekan depan pada rilis nonfarm payrolls AS Januari 2026. Rupiah bergerak di sekitar Rp16.868 per dolar AS, meski cadangan devisa turun menjadi 154,6 miliar dolar AS pada Januari.