Sejumlah selebritas termasuk Bad Bunny dan Harry Styles telah memopulerkan sepatu balet untuk pria di berbagai acara bergengsi baru-baru ini. Para analis mode mencatat adanya peningkatan visibilitas dan dampak penjualan dari kemunculan gaya tersebut. Tren ini menandai pergeseran ke arah alas kaki yang lebih ramping dalam busana pria.
Bad Bunny mengenakan sepatu balet Dries Van Noten pada penayangan perdana Happy Gilmore 2, sementara Harry Styles tampil dengan sepatu balet Dior berwarna hijau pastel di ajang Grammy dan sepatu Chanel hitam di ajang Brits. Kehadiran gaya yang dulunya dianggap eksentrik ini kini menarik perhatian arus utama, menyusul peluncuran produk dari jenama seperti Comme des Garçons, Maison Margiela, Lemaire, dan Bode sejak 2021. Analis ritel Karis Munday dari EDITED menilai Styles berperan dalam mendorong tren ini, dengan mengatakan bahwa sepatu bertali model balet dari Celine terjual habis tak lama setelah kemunculannya di ajang Brits, dan kini sepatu dengan sol sangat tipis mencakup 8% dari koleksi sepatu pria awal Zara. Frida Tordhag dari Heuritech melaporkan pertumbuhan visibilitas sebesar 23% dari tahun ke tahun di media sosial untuk sepatu pumps pria di Eropa dan 11% di AS di kalangan usia 16 hingga 25 tahun. Direktur gaya Mr Porter, Benedict Browne, mengamati adanya pergeseran yang lebih luas dari tren sepatu kets tebal—yang turun 3 poin persentase dari tahun ke tahun—menjadi sepatu yang lebih ramping, yang naik 7 poin, dengan pengaruh desain sepatu balet pada model hibrida seperti Ballerina Grip dari Simone Rocha dan varian Y-3 Stan Smith dari Adidas. Pendiri bersama Stòffa, Agyesh Madan dan Nicholas Ragosta, menggambarkan sandal bersol datar mereka sebagai alas kaki yang memberikan kenyamanan layaknya bertelanjang kaki untuk lingkungan perkotaan, yang melunakkan kesan busana formal. Jack Ladow dari Morjas mengaitkan tren ini dengan sepatu opera klasik dalam acara black tie, yang kini tidak lagi terasa asing di tengah preferensi alas kaki yang lebih lembut. Para analis menyarankan agar jenama menyesuaikan siluet tersebut untuk menarik minat lebih luas dengan memadukannya bersama elemen maskulin, meskipun adopsi secara menyeluruh mungkin tetap terbatas pada segmen tertentu.