Serangan strok tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga memengaruhi fungsi kognitif dan motorik pasien. Pemulihan memerlukan nutrisi otak yang tepat untuk memperbaiki sel yang rusak. Dokter spesialis neurologi dr Zicky Yombana menekankan pentingnya gaya hidup sehat untuk mencegah dan mengelola strok.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Strok merupakan kondisi darurat medis yang terjadi akibat terganggunya aliran darah ke otak, menyebabkan kematian sel otak dalam hitungan menit. Kondisi ini menimbulkan gangguan neurologis mendadak, bahkan kelumpuhan, dan menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia serta salah satu penyebab utama kecacatan jangka panjang, menurut data Kementerian Kesehatan RI.
Dokter spesialis neurologi lulusan Universitas Indonesia, dr Zicky Yombana, Sp.N, AIFO-K, DAIFIDN, menjelaskan bahwa nutrisi memainkan peran krusial dalam pemulihan. “Dalam tahap pemulihan, nutrisi berperan sebagai bahan dasar perbaikan sel otak yang rusak. Kalau otak diibaratkan rumah yang rusak diterpa badai, maka nutrisi adalah bahan bangunan untuk memperbaikinya. Tanpa nutrisi yang tepat, proses pemulihan akan lambat,” katanya baru-baru ini.
Ia menyoroti bahwa strok kini sering menyerang usia produktif akibat pola hidup tidak sehat, seperti pola makan tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, merokok, serta konsumsi makanan berlebihan yang berkontribusi pada sindrom metabolik dan risiko penyakit pembuluh darah. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi strok mencapai 8,3 per 1.000 penduduk, dengan kontribusi 18,5 persen terhadap kematian tertinggi.
Secara global, World Stroke Organization mencatat lebih dari 12 juta kasus strok setiap tahun, dengan lebih dari 16 persen di antaranya pada usia 15-49 tahun. Untuk pencegahan, dr Zicky menekankan kesadaran gaya hidup sehat dan pengenalan tanda-tanda awal melalui metode SEGERA: Senyum tidak simetris, Gerakan menurun, Bicara pelo, Rabun mendadak, Sakit kepala hebat, dan segera ke rumah sakit.
“Strok adalah kondisi darurat medis. Masyarakat harus segera membawa pasien ke rumah sakit, bukan memijat atau mengobati sendiri di rumah,” tegasnya. Pemahaman ini menjadi langkah preventif efektif untuk menekan kasus strok.