Lebih dari seribu rabi dan pemimpin Yahudi telah menandatangani surat yang mendesak Israel menghentikan penggunaan kelaparan sebagai senjata dalam perang Gaza. Rabi Sarah Reines dari Temple Emanu-El di Manhattan, pendukung seumur hidup Israel, menjelaskan alasan bergabungnya dalam panggilan tersebut dalam wawancara podcast baru-baru ini. Diskusi tersebut menyoroti hubungan pribadinya dengan Israel di tengah kritik yang semakin besar terhadap konflik.
Dalam episode yang ditayangkan ulang dari podcast What Next milik Slate dari Agustus 2025, Rabi Sarah Reines berbagi pandangannya tentang perang yang sedang berlangsung di Gaza. Sebagai rabi di Temple Emanu-El di Manhattan, Reines telah mempertahankan hubungan mendalam dengan Israel sepanjang hidupnya. Namun, ia menjadi vokal dalam kritiknya terhadap tindakan militer, khususnya krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di Gaza.
Episode tersebut berfokus pada surat yang ditandatangani oleh lebih dari 1.000 rabi dan pemimpin Yahudi. Dokumen tersebut mendesak Israel untuk mengakhiri "penggunaan dan ancaman kelaparan sebagai senjata perang". Reines, salah satu penandatangan, menggambarkan motivasinya selama wawancara. Ia menekankan cinta abadinya terhadap Israel sambil menganjurkan perdamaian dan penghentian segera taktik yang memperburuk penderitaan di Gaza.
Panggilan ini muncul di tengah diskusi yang lebih luas dalam komunitas Yahudi tentang dampak konflik. Podcast yang dipandu oleh Slate memberikan platform bagi Reines untuk mengartikulasikan sikap etis Yahudi terhadap isu tersebut. Saat perang berlanjut hingga akhir 2025, suara-suara seperti ini menekankan perdebatan internal mengenai kebijakan Israel di Palestina.
Episode tersebut tayang pertama kali pada Agustus dan ditinjau ulang pada Desember 2025 sebagai bagian dari seri tinjauan tahun. Hal itu menyoroti bagaimana ikatan pribadi dengan Israel dapat berdampingan dengan seruan untuk pertanggungjawaban dan bantuan kemanusiaan.