Beberapa siswa SMAN 72 ingin pindah karena trauma ledakan

Gubernur Jakarta Pramono Anung terkejut mendengar beberapa siswa SMAN 72 ingin pindah sekolah akibat trauma pasca-ledakan bom pada 7 November 2025. Sekolah masih menunda pembelajaran tatap muka dan melanjutkan pendidikan jarak jauh pada 17 November. Polisi mengungkap tiga bom lainnya gagal meledak karena pelaku terluka lebih dulu.

Insiden ledakan bom rakitan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, pada Jumat, 7 November 2025, menewaskan 96 orang luka-luka. Berdasarkan data kepolisian hingga Kamis, 13 November 2025, masih ada 20 orang yang dirawat di rumah sakit. Pelaku, yang disebut sebagai F, membawa tujuh bom rakitan aktif, tetapi hanya empat yang meledak di dua lokasi: masjid sekolah dan area bank sampah serta taman baca.

Menurut Komandan Satuan Brimob Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Henik Maryanto, dalam konferensi pers pada Selasa, 11 November 2025, ledakan di masjid sekolah meninggalkan dua kawah ledakan, serpihan plastik, paku, potongan tas, dan komponen elektronik seperti saklar rocker. "TKP masjid sekolah ditemukan dua bekas ledakan bom rakitan beserta sejumlah barang bukti seperti serpihan plastik, dua crater atau kawah ledak yang kami temukan, paku, potongan tas, serta komponen elektronik seperti switching rocker," ujar Henik. Bom tersebut diduga dikendalikan secara jarak jauh menggunakan remot, didukung rekaman CCTV yang menunjukkan pelaku membawa perangkat serupa. Di lokasi kedua, satu bom ditemukan dalam kemasan kaleng minuman bersoda dengan sumbu bakar.

Tiga bom lainnya gagal meledak karena pelaku F terluka lebih dulu saat aksi, menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto, pada Senin, 17 November 2025. "Iya betul, (pelaku keburu terluka)," katanya. Bom-bom tersebut telah dibongkar oleh tim penjinak bom dan menjadi barang bukti di Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri.

Pascainsiden, Kepala Sekolah SMAN 72, Tetty Helena Tampubolon, menyatakan sekolah akan melanjutkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada Senin, 17 November 2025, sambil meminta persetujuan orang tua untuk mode hybrid. "Hari Senin itu yang pasti masih PJJ. Kami harus pastikan dengan orang tuanya apakah sudah boleh hybrid ya," katanya pada Sabtu, 15 November 2025. Ia mengakui banyak siswa rindu sekolah, tetapi beberapa masih trauma dan memerlukan pendampingan psikologis. "Kami kan belum bisa memastikan mereka harus seluruhnya belajarnya luring ya, karena kalau mereka belum itu (baik) semuanya, masih ada sebagian yang kondisinya, traumanya masih ada," ujar Tetty.

Gubernur Pramono Anung, yang menerima laporan dari kepala sekolah pada Ahad, 16 November 2025, terkejut dengan permintaan pindah sekolah dari siswa trauma. "Memang yang saya kaget, Bu Kepala Sekolah juga menyampaikan ada beberapa siswa yang trauma. Karena trauma, minta pindah sekolah. Ya, tetapi kan ini menjadi persoalan tersendiri," kata Pramono. Ia menyarankan sekolah tidak memaksakan pembukaan jika siswa belum siap. "Prinsipnya, saya sampaikan kepada Ibu Kepala Sekolah, kalau memang Senin besok sudah siap silakan dibuka, tapi kalau belum siap jangan dipaksakan," tambahnya. Pendampingan psikologis terus dilakukan, meski hasilnya belum dirinci.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak