Para influencer di Women’s Leadership Summit Turning Point USA di San Antonio menyuarakan keprihatinan atas janji-janji pemerintahan Trump yang belum terpenuhi. Para pembicara menyoroti isu-isu seperti kenaikan biaya hidup dan kebijakan luar negeri sebagai alasan potensi ketidakterlibatan pemilih menjelang pemilu paruh waktu.
Pertemuan perempuan muda konservatif di San Antonio akhir pekan ini mengungkapkan ketegangan yang berkembang dalam koalisi Partai Republik. Para peserta di Turning Point USA Women’s Leadership Summit mendiskusikan pergeseran dari penyelarasan MAGA yang ketat menuju fokus America First. Savanna Faith Stone, seorang influencer berusia 21 tahun, mengatakan bahwa janji mengenai harga bensin dan ekonomi belum terealisasi. Ia mencatat bahwa para perempuan muda mulai menyadari kesulitan untuk membeli rumah di bawah kondisi saat ini. Alex Clark, seorang podcaster dengan banyak pengikut, mengatakan kepada Gedung Putih bahwa para pendukung menginginkan pendekatan yang lebih agresif dari Presiden Trump. Ia menyebut konflik yang sedang berlangsung, termasuk perang di Iran, dan isu-isu lain seperti pestisida sebagai hal yang mengikis kepercayaan. Tokoh-tokoh Partai Republik termasuk anggota DPR Kat Cammack dan Gubernur Sarah Huckabee Sanders mengakui perlunya pesan yang lebih baik mengenai keterjangkauan harga dan masalah keluarga. Gedung Putih merujuk pada tindakan mengenai olahraga perempuan dan kredit pajak anak sebagai bukti kemajuan.