Tirai bambu, yang dikenal sebagai 'chik', mengalami kebangkitan retro pada 2026 setelah masa penurunan. Awalnya dibuat di India utara berabad-abad lalu dari bahan alami, perlakuan jendela ini dipuji karena kesederhanaan dan fungsionalitasnya. Desainer interior Sam Grigg menyoroti daya tarik jujurnya dalam pengaturan kontemporer.
Tirai bambu, juga disebut 'chik', berasal dari India utara, di mana mereka telah dibuat selama berabad-abad menggunakan bahan alami seperti bambu, rami, rotan, rumput, dan alang-alang. Tirai ini secara historis populer karena membawa sentuhan luar ke dalam rumah, menjaga lingkungan interior tetap sejuk sambil memungkinkan cahaya lembut menyaring masuk. Harga terjangkaunya juga berkontribusi pada penggunaan luasnya di masa lalu. Seiring waktu, popularitas tirai bambu menurun, menyebabkan penggunaannya berkurang di rumah-rumah. Namun, pada 2026, para desainer membawanya kembali sebagai elemen retro di interior modern, mencipta ulang perlakuan jendela yang menjauh dari pilihan kain tradisional. Desainer interior dan stylist Sam Grigg mengomentari kualitas abadinya: «Tirai bambu adalah bahan yang sangat jujur. Ada sesuatu tentang bentuk gulung sederhana mereka yang terasa tidak rumit dan membumi. Mereka membawa ketenangan tenang ke ruangan — mereka tidak berteriak minta perhatian, tapi duduk di latar belakang dan melakukan tugasnya dengan indah». Kebangkitan ini menekankan kemampuan tirai untuk memberikan manfaat praktis seperti pengendalian suhu dan penyebaran cahaya tanpa membanjiri ruang, selaras dengan preferensi kontemporer untuk elemen alami yang tidak mencolok dalam desain rumah.