Perabot rotan sedang mengalami kebangkitan kembali dalam dekorasi rumah, dihargai karena tekstur alaminya dan fleksibilitasnya di berbagai gaya. Dulunya populer pada 1960-an dan 1970-an, popularitasnya menurun karena pilihan desain yang terbatas tetapi sekarang dihargai karena ringan, tahan lama, dan ramah lingkungan. Warga Dhaka menyoroti perannya dalam membawa rasa alam ke kehidupan perkotaan.
Perabot rotan, yang membangkitkan gambar resor dan liburan, kembali kuat ke interior kontemporer. Ini cocok secara mulus ke desain retro, boho, pantai, atau tradisional, meningkatkan ruang dengan tambahan warna, tekstur, dan ketertarikan. Setelah mendominasi rumah pada 1960-an dan 1970-an, popularitasnya merosot karena dianggap ketinggalan zaman dan kurangnya variasi dibandingkan potongan modern yang berwarna-warni. The revival stems from its timeless appeal and adaptability. Pada 2021, tren desain global menekankan tekstur dan bahan alami, kualitas yang diwujudkan rotan sambil juga serbaguna, perawatan rendah, terjangkau, dan ramah lingkungan. Penggemar seni menggunakannya di dalam dan luar ruangan untuk memperkenalkan 'kealamian' di tengah lingkungan yang didominasi teknologi. Di Dhaka, di mana kehidupan perkotaan terasa membatasi di tengah struktur beton, warga lokal menghargai nada tanahnya. Asif Rahman, seorang bankir, mengatakan, “Hidup di sini, pikiran saya mendambakan sentuhan alami setiap hari. Bagi saya, sampai batas tertentu, perabot rotan dengan tekstur alami dan nada tanah memenuhi keinginan itu dengan menambahkan nuansa playful dan santai ke rumah tangga saya.” Ia menambahkan bahwa itu mengingatkannya pada masa kecil di desanya. Sabrina Shelly, seorang ibu rumah tangga di Dhanmondi, mengatakan, “Perabot kayu sudah ada untuk membuat interior saya terlihat bagus. Beberapa potong perabot rotan membawa variasi, yang paling saya sukai.” Ia menggambarkan sofa rotannya dan meja bambu sebagai elegan seperti alternatif yang lebih mahal. Bisnis merespons dengan desain dan warna yang beragam. Bahan baku utama berasal dari Indonesia dan Vietnam, karena rotan lokal kurang berkualitas untuk barang premium. Harga bervariasi: set makan dari Tk 25.000 hingga Tk 1,5 lakh, sofa dari Tk 28.000 hingga Tk 2 lakh, kursi dari Tk 3.000 hingga Tk 20.000, dan kursi gantung dari Tk 5.000 hingga Tk 20.000. Produk dilengkapi jaminan hingga 10 tahun. Bangladesh dapat meningkatkan ekspor barang berbahan alami seperti itu, dan para ahli menyarankan dukungan pemerintah untuk memperluas sektor dan mendiversifikasi ekspor. Ide penataan mencakup sofa rotan di ruang tamu dengan bantal cerah, kursi putih di sekitar meja makan untuk kontras, kepala tempat tidur di kamar tidur untuk nuansa organik, dan kursi gantung di luar ruangan untuk nuansa resor. Perawatan melibatkan debu secara rutin, pembersihan dengan air sabun, dan menghindari panas atau sinar matahari langsung untuk mencegah rapuh.