Agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 menimbulkan keraguan atas kredibilitas Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian. Anggota DPR TB Hasanuddin menyebut serangan ini membuktikan sifat anti-perdamaian pemimpin BoP, sementara pakar hubungan internasional menilainya sebagai ujian bagi narasi perdamaian global. Pemerintah Indonesia diminta mengambil sikap tegas dan memanfaatkan keanggotaan di BoP untuk diplomasi.
Serangan militer Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Republik Islam Iran dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Israel melancarkan serangan. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah memulai operasi tempur besar-besaran di Iran. Salah satu serangan melibatkan tujuh roket yang menghantam Teheran, dekat kediaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Iran merespons dengan meluncurkan roket terhadap Israel serta target di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Agresi ini, menurut Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Indonesia TB Hasanuddin, membuktikan keraguan internasional atas Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, di mana AS dan Israel merupakan pemimpin dan anggota kunci yang dikampanyekan untuk perdamaian di Gaza, Palestina, dan Israel. "Dari kejadian ini (penyerangan terhadap Iran), kita menjadi semakin yakin, tidak percaya bahwa BoP benar-benar memiliki misi yang tulus untuk perdamaian. Yang terjadi saat ini, fakta di lapangan justeru menunjukkan eskalasi konflik (perang) yang akan semakin meluas," kata Hasanuddin dalam siaran pers pada 1 Maret 2026.
Hasanuddin menilai serangan tersebut merupakan ambisi untuk menghancurkan kepemimpinan Ayatullah Ali Khamenei oleh Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang berpotensi membakar situasi Timur Tengah dan menghambat perdamaian Palestina. Ia mendesak pemerintah Presiden Prabowo Subianto untuk menyatakan posisi resmi yang menolak agresi, sesuai konstitusi Indonesia yang mendukung perdamaian dunia. Keanggotaan Indonesia di BoP seharusnya menjadi kanal untuk aktivisme diplomasi.
Pakar hubungan internasional Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam memandang serangan ini mempertajam kontradiksi antara retorika stabilitas BoP dan praktik militer. "Serangan terhadap Iran ini mempertajam kontradiksi antara retorika stabilitas dan praktik militer di lapangan, sekaligus menguji kredibilitas narasi perdamaian melalui Board of Peace (BoP)," ujarnya. Umam menyerukan deeskalasi oleh kekuatan dunia dan memperingatkan bahwa ketidakpedulian bisa mengarah pada target lain seperti Greenland, Kanada, Eropa, atau Amerika Latin. Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan Prabowo siap bertolak ke Iran untuk memfasilitasi dialog demi keamanan kondusif.