Berner Kühl, Bonnetje, Caro Editions, dan O. Files menjadi finalis Wessel & Vett Prize 2026, penghargaan terbesar di Skandinavia yang mendukung desainer Denmark. Masing-masing menerima 75.000 DKK, dengan pemenang akan meraih 300.000 DKK pada akhir perhelatan Copenhagen Fashion Week edisi musim semi 2027. Penghargaan yang didirikan oleh yayasan Wessel & Vett ini memberikan apresiasi kepada talenta baru di tengah tantangan yang dihadapi oleh merek-merek independen.
Wessel & Vett Prize, yang dinamai menurut pendiri jaringan toserba Magasin, Emil Vett dan Theodor Wessel, sebelumnya telah mendukung berbagai merek seperti Cecilie Bahnsen, Saks Potts, Anne Sofie Madsen, dan pemenang tahun 2025, Nicklas Skovgaard. Tahun ini menandai adanya perubahan: alih-alih memberikan jumlah penuh kepada satu penerima, setiap finalis mendapatkan 75.000 DKK (sekitar $11.000). Sebanyak 14 anggota juri, yang terdiri dari para ahli mode, mengunjungi lokasi setiap merek untuk melakukan evaluasi personal dengan menekankan pada aspek pendampingan. Pemenang akan diumumkan musim semi mendatang selama Copenhagen Fashion Week. Berner Kühl, yang didirikan oleh Frederik Berner Kühl pada 2019 setelah menempuh pendidikan di Polimoda, Milan, berfokus pada pakaian pria minimalis. “Kami selalu mengedepankan evolusi, bukan revolusi, dalam apa yang kami lakukan. Dan kami menghabiskan banyak waktu untuk mendiskusikan tentang pengendalian diri dan penyempurnaan,” ujar Berner Kühl. Bonnetje, yang diluncurkan oleh Anna Myntekær dan Yoko Maja Hansen—keduanya lulusan Gerrit Rietveld Academie—mendekonstruksi setelan pria menjadi pakaian feminin dengan memprioritaskan keberlanjutan. “Setelan adalah intinya,” kata Hansen. Caro Editions, yang dirintis pada 2022 oleh mantan model Caroline Bille Brahe, menekankan desain yang terinspirasi dari gaya vintage dan dibuat sesuai pesanan (made-to-order). “Bagi saya, membuat pakaian juga berkaitan erat dengan bagaimana pakaian tersebut membuat Anda merasa saat mengenakannya,” tuturnya. O. Files, karya Oscar Jardorf sejak 2018, mengikuti model perilisan streetwear dengan teknik penjahitan tradisional dan detail yang unik. “Kami mempertimbangkan situasi dan perasaan dalam kehidupan sehari-hari, lalu menerjemahkannya ke dalam pakaian,” jelas Jardorf. Merek-merek khusus ini berbagi kesulitan yang sama dalam menjangkau pembeli dan mengembangkan skala bisnis sembari tetap mempertahankan autentisitas.