Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa 50,5 juta orang telah mengikuti Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga akhir Oktober 2025. Sebanyak 95,8 persen peserta dewasa tercatat kurang aktivitas fisik, menandakan ancaman penyakit tidak menular yang serius. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya prioritas pada pola hidup sehat.
Di Jakarta, Selasa, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan hasil CKG yang mencapai 50,5 juta peserta, terdiri dari 34,3 juta untuk CKG umum dan 16,2 juta untuk CKG sekolah. "Pencapaian lebih dari 50,5 juta peserta merupakan tonggak penting bagi upaya kesehatan nasional. Namun data CKG juga memberi peringatan serius bahwa aktivitas fisik dan pola hidup sehat harus semakin menjadi prioritas bersama," katanya.
Pada kelompok dewasa, kurang aktivitas fisik mencapai 95,8 persen, diikuti karies gigi 41,9 persen, obesitas sentral 32,9 persen, serta overweight dan obesitas 24,4 persen. "Temuan ini mengonfirmasi bahwa penyakit tidak menular masih menjadi ancaman utama bagi kelompok produktif," ujar Budi. Program CKG dirancang sebagai instrumen deteksi dini untuk penanganan dini penyakit, guna mencegah komplikasi serius.
"Program ini bukan hanya soal jumlah peserta, tapi bagaimana hasilnya kita gunakan untuk memperkuat kebijakan, layanan kesehatan, dan intervensi di masyarakat," tambahnya. Temuan serupa terlihat di kelompok usia lain: bayi baru lahir berisiko kelainan saluran empedu 18,6 persen, berat badan lahir rendah 6,1 persen, dan penyakit jantung bawaan kritis 5,5 persen. Balita dan anak prasekolah mengalami gigi tidak sehat 31,5 persen, stunting 5,3 persen, serta wasting 3,8 persen.
Remaja dan pelajar menunjukkan kurang aktivitas fisik 60,1 persen, karies gigi 50,3 persen, dan anemia 27,2 persen. Sementara lansia mencatat 96,7 persen kurang aktivitas fisik dan 37,7 persen hipertensi. Budi menyatakan hasil CKG akan memperkuat kebijakan kesehatan dan promosi gaya hidup sehat. "Kita ingin masyarakat bukan hanya sembuh dari penyakit, tapi mampu menjaga kesehatannya secara berkelanjutan," katanya. Ia mengapresiasi kolaborasi tenaga medis, puskesmas, dan pemerintah daerah dalam program ini.