Aktor asal Sri Lanka, Hiran Abeysekera, akan kembali memerankan sang pangeran Denmark dalam produksi modern karya Shakespeare, Hamlet, di Brooklyn Academy of Music. Disutradarai oleh Robert Hastie, pertunjukan ini akan tayang perdana pada 26 April dan berlangsung hingga 23 Mei. Produksi yang awalnya dipentaskan di National Theatre London pada tahun 2025 ini menghadirkan sudut pandang baru atas naskah klasik tersebut.
Sutradara Robert Hastie, yang juga merupakan wakil direktur artistik di National Theatre, mendeskripsikan sosok Hamlet yang dibawakan Abeysekera sebagai sesuatu yang berbeda dari interpretasi sebelumnya. 'Dia tidak terlihat seperti Hamlet mana pun yang pernah kita miliki sebelumnya, dan itu bukan sekadar soal etnisitasnya,' ujar Hastie. Ia memuji cara sang aktor membangun hubungan yang jenaka, lugas, dan simpatik dengan penonton, yang telah memikat hampir 1.000 penonton di London. Desainer kostum dan panggung, Ben Stones, memberikan tampilan modern yang apik pada produksi ini, termasuk adegan sang pangeran mengenakan anting dan meminum Dom Pérignon saat adegan penting bersama para abdi dalem terkait hantu mendiang raja. Ini menjadi salah satu dari lebih dari 20 produksi Hamlet di BAM sejak tahun 1861, yang berlokasi di Fort Greene, Brooklyn. Abeysekera, 40, mulai dikenal luas sebagai Pi Patel dalam pementasan Life of Pi di West End dan Broadway pada tahun 2022, yang membawanya meraih Theatre World Award. Berbicara sebelum latihan di sela-sela jadwalnya untuk The Jungle Book, ia menceritakan momen saat Hastie menawarinya peran tersebut sambil minum kopi di tepi Sungai Thames. 'Saya sangat bersyukur untuk itu,' ujar Abeysekera mengenai kepercayaan yang diberikan oleh Hastie dan direktur artistik National Theatre, Indhu Rubasingham. Ia mengantisipasi energi yang berbeda dari penonton New York, seraya menekankan keterlibatan langsung selama monolog berlangsung. Abeysekera mencatat tuntutan fisik dan emosional dari peran ini, dengan tetap menjaga kebugaran melalui senam kalistenik, berlari, dan melafalkan sutra Buddha untuk ketenangan mental. Mengenai rasa memiliki, ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap aturan visa Inggris meskipun telah tinggal di sana selama hampir 20 tahun, meski ia merasa diterima di dunia teater Inggris.