Harga minyak mentah yang melampaui $100 telah menghapus Rs 20 lakh crore dari pasar ekuitas India minggu ini, di tengah eskalasi konflik Iran. Rupiah mencapai rekor terendah karena investor institusional asing terus menjual, memperparah penurunan. Para ahli menilai kepanikan ini bisa menjadi peluang beli jangka panjang.
Pasar ekuitas India mengalami volatilitas parah minggu ini, didorong oleh ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah di atas $100 per barel. Indeks acuan Nifty 50 turun hampir 10% dari level tertinggi 52 minggu, sementara indeks Nifty Microcap 250 yang lebih luas jatuh sekitar 18%. Penjualan besar-besaran ini menghapus Rs 20 lakh crore dari nilai pasar, dengan rupiah mencapai rekor terendah dan investor institusional asing (FII) menambah tekanan melalui penjualan berkelanjutan. The downturn coincided with Friday the 13th, when markets opened sharply lower, evoking superstitions like paraskevidekatriaphobia. The Sensex and Nifty experienced significant drops, marking the biggest weekly decline in over a year. Experts recommend a 'sell on rise' strategy, favoring selective investments in resilient sectors such as pharma and metals, while advising caution in banks, IT, autos, and real estate. Di tengah kekacauan, sekitar 26 saham microcap turun lebih dari 50% dari level tertinggi 52 minggu mereka. Contoh mencolok termasuk Oswal Pumps, turun 65% menjadi Rs 307, dipegang oleh 16 skema reksa dana per Februari 2026; Awfis Space Solutions, jatuh 60% menjadi Rs 286, dengan 45 skema; dan HG Infra Engineering, turun 60% menjadi Rs 508, dipegang oleh 21 skema. Saham lain yang terdampak adalah Ganesha Ecosphere (turun 56% menjadi Rs 768), Zaggle Prepaid Ocean Services (52% menjadi Rs 225), Paradeep Phosphates (52% menjadi Rs 113), Dhanuka Agritech (51% menjadi Rs 961), Le Travenues Technology (50% menjadi Rs 168), dan KNR Constructions (50% menjadi Rs 127). Axis Mutual Fund dan pakar lain berpendapat bahwa ketakutan saat ini dapat menciptakan jendela pembelian jangka panjang yang langka, karena kepemilikan reksa dana di saham-saham ini mencerminkan uji tuntas sebelumnya. Namun, konflik Iran yang sedang berlangsung dan eskalasi harga minyak terus mengguncang sentimen investor.