AS tawarkan US$10 juta untuk informasi tentang peretas Rusia

Departemen Luar Negeri AS menawarkan imbalan hingga US$10 juta untuk informasi mengenai dua kelompok siber yang berafiliasi dengan negara Rusia yang berada di balik kampanye phishing yang menargetkan akun Signal dan WhatsApp. Operasi ini telah membobol ribuan akun setidaknya sejak bulan Maret.

Pihak berwenang federal mengumumkan imbalan tersebut pada hari Senin di bawah program Reward for Justice. Imbalan ini menargetkan kelompok UNC5792, yang terkait dengan Penjaga Perbatasan Dinas Keamanan Federal Rusia, dan UNC4221, yang bekerja untuk dinas militer Rusia.

Kampanye tersebut menggunakan pesan phishing yang menyamar sebagai layanan dukungan. Para penyerang mengelabui pengguna agar menautkan perangkat atau membagikan kunci cadangan, sehingga memberikan akses ke pesan saat ini dan pesan lama di Signal dan WhatsApp.

Target serangan meliputi pejabat pemerintah AS, personel militer, tokoh politik, dan jurnalis. FBI telah mengeluarkan peringatan pada bulan Maret dan minggu lalu yang merinci taktik yang terus berkembang tersebut.

Pernyataan Departemen Luar Negeri mencatat bahwa kelompok-kelompok tersebut telah melakukan phishing secara luas tanpa mengeksploitasi kelemahan enkripsi pada aplikasi tersebut.

Artikel Terkait

Kantor Lapangan FBI Atlanta bersama otoritas Indonesia membongkar operasi phishing global yang canggih. Jaringan ini mencuri ribuan kredensial akun korban dan mencoba penipuan lebih dari 20 juta dolar AS atau Rp 342 miliar. Ini merupakan investigasi siber gabungan pertama sejenis.

Dilaporkan oleh AI

Lembaga federal AS mengungkapkan bahwa intelijen militer Rusia telah meretas ribuan router kantor kecil dan rumah, serta mendesak pemiliknya untuk segera mengambil langkah perlindungan.

The FBI, BND and BfV warn of attacks by Russian state hackers on TP-Link routers and WLAN extenders. The Fancy Bear group has infiltrated thousands of devices worldwide to steal sensitive data. In Germany, 30 affected devices have already been detected.

Dilaporkan oleh AI

The United States has designated a Nigerian national and three companies operating in Nigeria as alleged facilitators of financial activities linked to ISIS. The action targets individuals and entities helping the group move funds across borders.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak