Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal pada April 2026, dipengaruhi oleh berakhirnya La Niña lemah dan potensi El Niño.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Indonesia akan datang lebih awal dibandingkan tahun-tahun normal. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa fenomena La Niña lemah berakhir pada Februari 2026, diikuti fase netral hingga Juni 2026, dengan indeks ENSO di angka -0,28. Peluang El Niño lemah-moderat mencapai 50-60 persen pada semester kedua tahun ini, sementara Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap netral sepanjang tahun.
Perubahan ini ditandai oleh pergeseran angin dari baratan Asia ke timuran Australia. Sebanyak 114 zona musim atau 16,3 persen wilayah mulai memasuki kemarau pada April 2026, meningkat menjadi 184 zona (26,3 persen) pada Mei, dan 163 zona (23,3 persen) pada Juni. Dibandingkan kondisi normal, 325 zona (46,5 persen) mengalami kemarau lebih cepat, 173 zona (24,7 persen) sesuai jadwal, dan 72 zona (10,3 persen) lebih lambat.
Wilayah yang terdampak awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua. Puncak musim kemarau diprediksi pada Agustus 2026 di daerah seperti Sumatra tengah-selatan, Jawa Tengah-Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Papua. Daerah lain mencapai puncak pada Juli, termasuk sebagian Sumatra, Kalimantan tengah-utara, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua barat; serta September di sebagian Lampung, Jawa, dan Nusa Tenggara Timur.
Teuku Faisal Fathani menekankan perlunya perhatian terhadap potensi El Niño yang dapat memengaruhi pola cuaca.