Tahun 2025 menyaksikan serangkaian insiden keamanan siber yang parah, mulai dari pelanggaran data universitas hingga gangguan rantai pasok. Di tengah pergeseran geopolitik di bawah Presiden Donald Trump, serangan ransomware dan serangan yang disponsori negara menjadi ancaman rutin. Peristiwa-peristiwa ini menyoroti kerentanan yang persisten di infrastruktur digital.
Pada tahun 2025, ruang siber mengalami periode yang sangat bergolak, ditandai dengan banyak peretasan dan pelanggaran profil tinggi. Menurut analisis WIRED yang diterbitkan pada 29 Desember, tahun tersebut mencakup pelanggaran universitas bersamaan dengan serangan siber yang menghentikan rantai pasok secara keseluruhan, yang menekankan risiko yang meningkat dalam keamanan siber.
Administrasi Presiden AS Donald Trump memperkenalkan inisiatif kebijakan luar negeri yang signifikan dan perubahan luas pada pemerintah federal, yang membawa konsekuensi geopolitik yang luas. Namun, perkembangan ini terjadi di latar belakang ancaman siber yang konstan. Pelanggaran data, kebocoran, serangan ransomware, skema pemerasan digital, dan operasi yang disponsori negara telah menjadi kekhawatiran sehari-hari yang normal.
Kata kunci yang terkait dengan insiden ini mencakup peretasan, keamanan siber, keamanan, malware, peretasan, dan keterlibatan dari China, yang menunjuk pada pelaku yang beragam dalam lanskap siber. Irama konstan insiden ini mengungkapkan tantangan dalam melindungi sistem kritis di tengah ketegangan global yang berkembang.
Tidak ada satu peristiwa pun yang mendominasi, tetapi dampak kumulatif menekankan perlunya pertahanan yang kuat. Laporan WIRED membingkai 2025 sebagai tahun yang aneh di mana risiko siber terjalin dengan pergeseran kebijakan utama, memengaruhi sektor dari pendidikan hingga logistik.