Indonesia, sebagai ketua D-8, terus mendorong deeskalasi untuk mencegah konflik Iran dengan AS-Israel meluas. Presiden Prabowo Subianto berencana mengunjungi Teheran bersama Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif guna memediasi ketegangan. Upaya ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas-aktif Indonesia.
Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa sebagai pemegang kekuasaan Developing Eight (D-8), Indonesia terus menekankan pentingnya deeskalasi dan mendorong pihak-pihak terkait untuk menahan diri. "Sebagai Ketua D-8, RI juga terus menekankan pentingnya deeskalasi dan mendorong berbagai pihak untuk terus menahan diri," kata Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang dalam taklimat media di Jakarta pada Jumat (6/3/2026).
Presiden Prabowo Subianto telah menawarkan diri untuk datang langsung ke Teheran guna memfasilitasi dialog antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, sebagai upaya meredakan eskalasi di kawasan Teluk. Tawaran ini muncul setelah panggilan telepon dari pemimpin Iran, dan didukung oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang bersedia ikut serta. Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie menyatakan, "Dan yang saya bersyukur Perdana Menteri Pakistan bersedia untuk bersama-sama dengan Presiden Prabowo untuk berkunjung ke Teheran."
Yvonne Mewengkang menegaskan bahwa inisiatif ini konsisten dengan prinsip bebas-aktif untuk mendorong penyelesaian damai. Kemlu siap mengkoordinasikan persiapan jika tawaran disetujui semua pihak. Sementara itu, persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D-8 ke-12 di Jakarta pada April 2026 tetap berjalan sesuai rencana, dengan tema "Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama". Keanggotaan Iran di D-8 tidak terdampak dinamika konflik saat ini.
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi berharap D-8 secara tegas mengutuk serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026 terhadap Iran. Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menambahkan bahwa niat mediasi Prabowo disambut baik oleh negara-negara Timur Tengah seperti Pakistan dan Uni Emirat Arab. Upaya ini bertujuan mencegah eskalasi lebih lanjut, terutama setelah pembunuhan seorang Ayatollah.