Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran mengimbau warga negara Indonesia di Iran untuk meningkatkan kewaspadaan setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut merupakan yang kedua di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, menyusul eskalasi ketegangan terkait program nuklir Iran. KBRI menyediakan hotline darurat untuk bantuan konsuler.
Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran, yang menjadi yang kedua selama masa pemerintahan Presiden AS Donald Trump setelah aksi serupa pada Juni 2025. Trump menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan melindungi rakyat AS dengan menghilangkan ancaman dari dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Teheran.
Sebelum eskalasi ini, Washington dan Teheran telah menggelar tiga putaran perundingan tidak langsung mengenai program nuklir Iran, dimediasi oleh Oman. Putaran pertama dan kedua berlangsung di Muscat dan Jenewa awal bulan itu, sementara putaran ketiga digelar pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa. Pembicaraan fokus pada pembatasan pengayaan uranium dan stoknya sebagai imbalan pencabutan sanksi.
Menanggapi situasi, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran meminta WNI di Iran untuk tetap tenang, mengambil langkah pengamanan diri bersama keluarga, dan mematuhi arahan otoritas setempat. WNI diminta memberikan pembaruan situasi keamanan melalui grup koordinasi KBRI. Hotline darurat disediakan di nomor +989024668889 untuk bantuan konsuler. KBRI akan terus berkomunikasi dengan komunitas WNI untuk memantau perkembangan.
Serupa, KBRI di Riyadh mengimbau WNI di Arab Saudi untuk tetap tenang, memantau sumber resmi, dan mendaftar diri di peduliwni.kemlu.go.id. Mereka dianjurkan menyiapkan dokumen penting seperti paspor dan iqama, serta menunda perjalanan tidak mendesak. Hotline KBRI Riyadh: +966 569173990 via WhatsApp.
Eskalasi ini juga memengaruhi penerbangan. Di Bandara Soekarno-Hatta, penerbangan ke Timur Tengah seperti ke Abu Dhabi, Doha, dan Dubai ditunda atau dibatalkan akibat penutupan wilayah udara, termasuk rute Etihad Airways, Qatar Airways, Emirates, dan Garuda Indonesia. Saudia Airlines membatalkan sejumlah penerbangan internasional demi keselamatan, memengaruhi jamaah umrah. Penumpang diminta memeriksa status melalui maskapai resmi.
Situasi di kawasan Timur Tengah terus dipantau oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan Indonesia.