OpenAI memperingatkan adopsi AI yang tidak merata di berbagai negara

OpenAI menyoroti kekhawatiran atas laju adopsi AI yang tidak merata di seluruh dunia, dengan beberapa negara maju lebih cepat daripada yang lain. Perusahaan ini meluncurkan inisiatif untuk mengintegrasikan keterampilan AI ke dalam sistem pendidikan global. Langkah ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan dan mempromosikan penggunaan AI yang lebih adil.

OpenAI telah mengeluarkan peringatan tegas tentang disparitas global dalam pengembangan dan penerapan AI. Menurut laporan TechRadar, beberapa negara sudah memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengatasi tantangan kompleks dan mempercepat kemajuan, sementara negara lain tertinggal, berisiko semakin terpinggirkan di era digital. Sebagai respons, OpenAI memperkenalkan program Education for Countries-nya. Inisiatif ini berfokus pada penanaman literasi AI ke dalam kurikulum sekolah dan peningkatan pelatihan guru. Dengan demikian, inisiatif ini berupaya mendemokratisasi akses ke alat dan pengetahuan AI, memastikan lebih banyak negara dapat berpartisipasi dalam revolusi AI secara setara. Peluncuran program ini datang pada saat potensi transformatif AI semakin jelas, namun manfaatnya masih terdistribusi secara tidak merata. Upaya OpenAI ini menekankan dorongan yang lebih luas untuk kemajuan teknologi yang inklusif, meskipun pertanyaan tetap ada tentang dampak praktisnya dalam konteks pendidikan dan ekonomi yang beragam. Diterbitkan pada 25 Januari 2026, pengumuman ini mencerminkan kesadaran yang tumbuh di kalangan pemimpin teknologi terhadap kebutuhan menangani ketidaksetaraan internasional dalam teknologi baru.

Artikel Terkait

A recent Ascun study shows artificial intelligence is now a reality in Colombian higher education, but most institutions lack policies and structures for its regulation. While 88.5% of students use it for assignments, only 55.2% of higher education institutions have AI guidelines. Public policy lags behind, creating gaps in equity and educational quality.

Dilaporkan oleh AI

Ethiopia's artificial intelligence ecosystem has evolved from a fringe experiment to a slowly expanding frontier. It is spearheaded by pioneering tech firms and endorsed at the highest levels of government. However, the sector struggles with structural constraints, talent gaps, and market fragility.

As India prepares to chair the AI Summit next month, calls are growing for AI ethics to shift from abstract ideas to practical, enforceable standards. These must be rooted in human rights principles like privacy, equality, non-discrimination, due process, and dignity.

Dilaporkan oleh AI

Para ahli memprediksi 2026 sebagai tahun penting bagi model dunia, sistem AI yang dirancang untuk memahami dunia fisik lebih dalam daripada model bahasa besar. Model ini bertujuan untuk membumikan AI dalam realitas, memungkinkan kemajuan dalam robotika dan kendaraan otonom. Pemimpin industri seperti Yann LeCun dan Fei-Fei Li menyoroti potensinya untuk merevolusi kecerdasan spasial.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak