Penelitian menunjukkan pengguna AI sering menerima jawaban yang salah tanpa sikap kritis

Para peneliti dari University of Pennsylvania telah mengidentifikasi "penyerahan kognitif," di mana orang melimpahkan penalaran mereka kepada AI tanpa melakukan verifikasi. Dalam eksperimen yang melibatkan 1.372 peserta, para partisipan menerima jawaban AI yang salah sebesar 73,2 persen dari waktu yang ada. Faktor-faktor seperti tekanan waktu meningkatkan ketergantungan pada hasil yang cacat.

Sebuah studi baru dari University of Pennsylvania mengeksplorasi bagaimana model bahasa besar mendorong pengguna untuk meninggalkan pemikiran logis mereka sendiri, dan menyebut fenomena ini sebagai "penyerahan kognitif." Penelitian ini dibangun berdasarkan teori proses ganda, dengan memperkenalkan "kognisi buatan" sebagai mode ketiga di mana keputusan berasal dari hasil AI, bukan dari pertimbangan manusia. Berbeda dengan alat tradisional seperti kalkulator, AI mengundang penerimaan menyeluruh atas responsnya yang meyakinkan, sering kali tanpa pengawasan, catat para peneliti tersebut. Mereka melakukan eksperimen menggunakan Tes Refleksi Kognitif, di mana para peserta memiliki akses ke chatbot yang diprogram untuk memberikan jawaban salah setengah dari waktu yang ada. Mereka yang berkonsultasi dengan AI menggunakannya untuk sekitar 50 persen soal, menerima jawaban yang benar 93 persen dari waktu tersebut dan jawaban yang salah 80 persen. Meskipun terdapat kesalahan, pengguna AI melaporkan tingkat kepercayaan yang 11,7 persen lebih tinggi terhadap jawaban mereka dibandingkan dengan mereka yang hanya mengandalkan pemikiran mereka sendiri. Insentif untuk jawaban yang benar meningkatkan tindakan mengabaikan saran AI yang buruk sebesar 19 poin persentase, sementara penghitung waktu 30 detik menurunkannya sebesar 12 poin. Dari lebih dari 9.500 uji coba, para peserta hanya mengabaikan AI yang salah sebesar 19,7 persen dari waktu yang ada. Orang dengan kecerdasan cair yang tinggi cenderung kurang rentan untuk menyerah, sementara mereka yang memandang AI sebagai otoritas lebih mudah terpengaruh. Para peneliti memperingatkan bahwa meskipun berisiko dengan AI yang tidak sempurna, penyerahan kognitif ini dapat memberikan manfaat melalui sistem yang lebih unggul dalam domain yang padat data.

Artikel Terkait

Illustration of Swedes in a Stockholm cafe using AI chatbots amid survey stats on rising usage and skepticism.
Gambar dihasilkan oleh AI

Increased AI chatbot use among Swedes – but also concerns

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

According to the latest SOM survey from the University of Gothenburg, the share of Swedes chatting with an AI bot weekly rose from 12 to 36 percent between 2024 and 2025. At the same time, skepticism toward AI has grown, with 62 percent viewing it as a greater risk than opportunity for society.

A new study published this month by the American Psychological Association reveals that heavy reliance on AI tools for workplace tasks correlates with reduced confidence in personal abilities and less sense of ownership over work. Researchers observed that users who rarely modify AI outputs feel less confident in their independent reasoning. The findings highlight trade-offs between speed and depth in AI-assisted work.

Dilaporkan oleh AI

New research indicates that conversational AI can strengthen false beliefs and distorted thinking in users. The findings come from a study examining how chatbots interact with people experiencing delusions or conspiracy theories. Researchers highlight risks especially for those who are isolated or vulnerable.

A Vogue Business survey of 251 readers reveals widespread caution toward AI in fashion and beauty shopping, with over half never using it for such purposes. Consumers prefer human elements like influencers over AI recommendations and express concerns about creativity, jobs, and data privacy. The findings highlight opportunities for discreet, behind-the-scenes AI use in luxury retail.

Dilaporkan oleh AI

Japan exhibits strong public confidence in AI as a solution to labor shortages, yet workplace adoption remains shallow. While government and corporations push for integration, creators voice concerns over copyrights and income. Experts highlight skill gaps as key barriers.

South Africa's Communications Minister Solly Malatsi has withdrawn the draft National Artificial Intelligence Policy following revelations of fictitious sources in its references, likely generated by AI tools. The errors impacted three of the policy's six pillars, leading to internal probes and commitments to accountability. Malatsi described the lapse as a key reason for needing stronger human oversight in AI use.

Dilaporkan oleh AI

Researchers at UC San Francisco and Wayne State University found that generative AI can process complex medical datasets faster than traditional human teams, sometimes yielding stronger results. The study focused on predicting preterm birth using data from over 1,000 pregnant women. This approach reduced analysis time from months to minutes in some cases.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak