Memasuki 10 hari kedua Ramadhan 1447 Hijriah pada 4 Maret 2026, banyak umat Islam mengalami penurunan semangat ibadah. Ustaz Adi Hidayat dalam ceramahnya mengungkap bahwa fase ini menjadi ujian kualitas puasa. Ia menekankan pentingnya konsistensi untuk mencapai takwa yang berkelanjutan.
Ramadhan 1447 Hijriah yang dimulai melalui sidang isbat pemerintah dengan metode hisab dan rukyat kini memasuki pertengahannya. Pada Rabu, 4 Maret 2026, fenomena klasik terlihat di masjid-masjid: saf shalat yang semula penuh kini merapat ke dalam, tarawih mulai bolong, dan tilawah Al-Qur’an kehilangan ritme. Ustaz Adi Hidayat dalam ceramahnya yang dikutip dari YouTube Adi Hidayat Official membahas fase ini sebagai momentum penentu.
“Sesungguhnya 10 hari kedua adalah standar dari keberhasilan 10 hari pertama,” ucap Adi Hidayat. Ia menjelaskan bahwa meski syariat tidak membagi Ramadhan secara tekstual menjadi tiga fase dengan keutamaan berbeda, fenomena dari Al-Qur’an dan hadis menunjukkan pola. Di awal Ramadhan, rahmat Allah luas, sejalan dengan hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari: pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup, dan setan dibelenggu.
Namun, ujian sesungguhnya datang di pertengahan. Saf renggang, motivasi turun, dan rutinitas dunia menyita perhatian. Ustaz Adi Hidayat merujuk ayat 183 Surah Al-Baqarah yang berakhir dengan “la’allakum tattaqun”, bentuk mudhari yang menandakan takwa berkelanjutan, bukan sesaat. “Kalau 10 hari kedua justru menurun, berarti ada yang perlu dievaluasi dari 10 hari pertama,” jelasnya.
Ia memberi analogi: jika kebiasaan dinikmati selama 10 hari pertama, konsistensi seharusnya terbentuk. Di Jakarta, waktu buka puasa pada hari itu pukul 18.14 WIB, saat adzan Maghrib, di mana umat Muslim membatalkan puasa dengan makanan manis sebelum salat. Fase ini juga mendorong evaluasi ibadah, peningkatan tilawah, sedekah, dan salat sunnah untuk menjaga semangat menjelang 10 hari terakhir.