Komputer klasik mencapai akurasi tingkat kuantum untuk energi FeMoco

Peneliti telah menggunakan superkomputer konvensional untuk menghitung energi keadaan dasar FeMoco, molekul krusial dalam fiksasi nitrogen, dengan presisi yang selama ini dianggap eksklusif untuk komputer kuantum. Terobosan ini menantang klaim keunggulan kuantum untuk simulasi kimia semacam itu. Temuan ini dapat mempercepat upaya untuk memahami dan mereplikasi fiksasi nitrogen untuk pupuk yang lebih efisien.

Fiksasi nitrogen, proses di mana mikroba mengubah nitrogen atmosfer menjadi amonia yang dapat digunakan, sangat penting bagi kehidupan di Bumi. Di intinya terdapat FeMoco, molekul kompleks yang mekanismenya yang tepat masih sulit dipahami. Memahami FeMoco dapat memungkinkan replikasi skala industri, memangkas biaya energi produksi pupuk dan berpotensi meningkatkan hasil panen.  nnMenghitung energi keadaan dasar FeMoco sangat sulit karena banyak elektronnya berperilaku dalam pola gelombang kuantum melintasi beberapa orbital. Meskipun komputer kuantum telah terbukti secara matematis mampu solusi tepat tanpa aproksimasi, metode klasik tertinggal, bergantung pada perkiraan yang kurang akurat.  nnSekarang, tim yang dipimpin Garnet Kin-Lic Chan di California Institute of Technology telah mengembangkan pendekatan klasik yang menyamai 'akurasi kimia'—presisi yang diperlukan untuk prediksi kimia yang andal. Dengan menganalisis sifat keadaan kuantum energi tinggi FeMoco, seperti simetri elektron, peneliti menghitung batas atas energi keadaan dasar dan mengekstrapolasi ke nilai presisi. Metode mereka dilaporkan menyelesaikan tugas dalam waktu kurang dari satu menit di superkomputer, dibandingkan perkiraan delapan jam di perangkat kuantum dalam kondisi ideal.  nnNamun, kemajuan ini tidak sepenuhnya mengungkap peran FeMoco dalam fiksasi nitrogen. Pertanyaan tetap ada tentang bagian molekul mana yang berinteraksi dengan nitrogen dan intermediat apa yang terbentuk selama proses.  nnDavid Reichmann di Columbia University mencatat, “Pekerjaan ini tidak banyak memberi tahu kita tentang sistem FeMoco dari segi fungsinya, tapi sebagai model untuk menunjukkan keunggulan kuantum, itu menaikkan standar lebih tinggi untuk pendekatan kuantum.”  nnDominic Berry di Macquarie University menambahkan, “Ini menantang argumen untuk menggunakan komputer kuantum untuk masalah seperti ini, tapi untuk sistem yang lebih rumit, diharapkan waktu komputasi metode klasik akan meningkat jauh lebih cepat daripada algoritma kuantum.” Berry menekankan bahwa komputer kuantum toleran kesalahan mendatang masih bisa menawarkan solusi lebih luas untuk molekul semacam itu.  nnPenelitian muncul dalam preprint di arXiv (DOI: 10.48550/arXiv.2601.04621).

Artikel Terkait

Realistic depiction of atoms dynamically moving before radiation-driven decay in a groundbreaking 'atomic movie' by scientists.
Gambar dihasilkan oleh AI

Researchers create an ‘atomic movie’ showing how atoms roam before a radiation-driven decay

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI Fakta terverifikasi

Scientists at the Fritz Haber Institute of the Max Planck Society and international collaborators say they have reconstructed a real-time “movie” of atoms moving for up to a picosecond before an electron-transfer-mediated decay (ETMD) event, showing that nuclear motion and geometry can strongly influence when the decay occurs and what it produces.

A new analysis indicates that two key quantum computing algorithms for chemistry problems have limited practical use, even with advancing hardware. Researchers suggest that calculating molecular energy levels may not justify the technology's investment as hoped. This challenges the view of quantum chemistry as a major application for quantum computers.

Dilaporkan oleh AI

Researchers have used two quantum computers and two supercomputers to simulate a molecule with 12,635 atoms, breaking the previous record. The hybrid approach targeted protein-ligand complexes relevant to drug discovery. The achievement marks progress toward practical quantum simulations despite current hardware limitations.

Chinese researchers have controlled a temporary stable phase in quantum systems, putting quantum chaos in slow motion and offering a possible avenue for preserving quantum information. This allows scientists to tune the speed of quantum decoherence, providing a vital tool for managing complex quantum environments.

Dilaporkan oleh AI

Researchers have developed a mathematical approach showing quantum computers could efficiently process large datasets for AI tasks. By loading data in batches like streaming, the method avoids massive memory needs. A machine with just 60 logical qubits could outperform classical systems by decade's end.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak