CrowdStrike memperingatkan intrusi jaringan cepat oleh penyerang

CrowdStrike mengeluarkan peringatan tentang kecepatan serangan siber, menyatakan bahwa penyerang dapat bergerak melalui jaringan dalam waktu kurang dari 30 menit. Perusahaan menggambarkan situasi tersebut sebagai 'perlombaan persenjataan AI', menekankan perlunya tim keamanan merespons lebih cepat daripada lawan. Peneliti menyoroti waktu breakout sebagai indikator kunci metode intrusi yang berkembang.

CrowdStrike, perusahaan keamanan siber terkemuka, memperingatkan organisasi tentang percepatan intrusi siber. Menurut laporan terbaru perusahaan, penyerang mampu menavigasi melalui jaringan dalam waktu kurang dari 30 menit, rentang waktu yang menekankan urgensi langkah-langkah pertahanan.  Peringatan tersebut membingkai lanskap keamanan siber saat ini sebagai 'Ini adalah perlombaan persenjataan AI', menyoroti bagaimana kecerdasan buatan memengaruhi strategi ofensif dan defensif. CrowdStrike menekankan bahwa 'tim keamanan harus beroperasi lebih cepat daripada musuh untuk menang' guna menangkal ancaman cepat ini secara efektif.  Peneliti dari perusahaan menunjuk pada waktu breakout—durasi yang dibutuhkan penyerang untuk memperluas akses mereka dalam jaringan—sebagai sinyal paling jelas tentang bagaimana taktik intrusi telah berkembang. Metrik ini mencerminkan perubahan lebih luas dalam metodologi serangan siber, didorong oleh alat dan teknik canggih.  Laporan tersebut diterbitkan pada 25 Februari 2026, memberikan wawasan tepat waktu di tengah kekhawatiran berkelanjutan tentang keamanan jaringan. Dengan fokus pada dinamika ini, CrowdStrike bertujuan memandu profesional keamanan dalam beradaptasi dengan ancaman yang bergerak lebih cepat tanpa menentukan detail teknis lebih lanjut atau prediksi.

Artikel Terkait

Illustration of a hacker using AI to swiftly build VoidLink malware targeting Linux cloud servers, featuring rapid code generation and infiltrated systems.
Gambar dihasilkan oleh AI

AI-assisted VoidLink malware framework targets Linux cloud servers

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Researchers at Check Point have revealed that VoidLink, a sophisticated Linux malware targeting cloud servers, was largely built by a single developer using AI tools. The framework, which includes over 30 modular plugins for long-term system access, reached 88,000 lines of code in under a week despite plans suggesting a 20-30 week timeline. This development highlights AI's potential to accelerate advanced malware creation.

Following IBM's recent findings on AI accelerating vulnerability exploits, a TechRadar report warns that hackers are turning to accessible AI solutions for faster attacks, often trading off quality or cost. Businesses must adapt defenses to these evolving threats.

Dilaporkan oleh AI

Hackers are increasingly leveraging artificial intelligence to identify and exploit security vulnerabilities at an accelerated pace. According to a report from IBM, the integration of AI into cyber attacks is speeding up the process significantly. This development highlights evolving threats in cybersecurity.

Researchers warn of malicious AI agents that could usher in a new phase in the global information war. To prevent this, they call for tough measures against the creators of such systems.

Dilaporkan oleh AI

A recent report indicates that 58 percent of people in Britain encountered significant online risks during 2025. The rise in AI usage has contributed to a decline in digital trust, according to the findings. Fraud and cyberbullying emerged as the primary concerns.

In the wake of Anthropic's unveiling of its powerful Claude Mythos AI—capable of detecting and exploiting software vulnerabilities—the US Treasury Secretary has convened top bank executives to highlight escalating AI-driven cyber threats. The move underscores growing concerns as the AI is restricted to a tech coalition via Project Glasswing.

Dilaporkan oleh AI

Japan has joined a list of countries shifting towards offensive cyber operations. This development comes as cyberattacks are said to have a huge impact on people’s lives and economic activities. Offensive cyber operations are becoming the norm.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak