Film 'Teman Tegar: Maira' soroti persahabatan dan penyelamatan hutan Papua

Film anak 'Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua' menggambarkan tema persahabatan dan kesadaran lingkungan melalui petualangan dua tokoh muda di Papua. Disutradarai Anggi Frisca, film ini menyoroti ancaman terhadap hutan adat dari pembalakan dan pertambangan. Film berdurasi lebih dari 90 menit ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026.

Jakarta (ANTARA) - Film 'Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua' membawa pesan penting tentang hubungan manusia dengan alam melalui cerita musikal dan petualangan anak-anak. Disutradarai Anggi Frisca, film ini mengikuti Tegar (M Aldifi Tegarajasa), anak laki-laki dari Bandung yang berlibur ke Papua bersama pengasuhnya Teh Isy (Joan Wakum). Di sana, ia bertemu Maira (Elisabet Sisauta), gadis berusia 12 tahun dari masyarakat adat yang mengajaknya menyusuri hutan untuk melihat burung Cendrawasih.

Awalnya didorong rasa ingin tahu, perjalanan mereka berubah menjadi upaya menyelamatkan hutan yang terancam oleh perusahaan pembalakan milik Bos Besar, yang menipu masyarakat adat untuk tambang. Maira, satu-satunya yang bisa membaca tulis di kampungnya, dibantu Tegar dan Teh Isy untuk melawan ancaman tersebut. Film ini menyajikan keindahan alam Papua yang memukau, beriringan dengan isu krisis iklim, deforestasi, dan konflik lahan, namun disampaikan secara ringan agar ramah untuk semua usia.

Produser dr. Chandra Sembiring menekankan peran film sebagai alat kampanye. "Kami ingin membangun ekosistem. Setiap film adalah alat edukasi, alat kampanye dan benih gerakan," ujarnya pada 27 Januari 2026. Joan Wakum, penyanyi dan aktris asal Papua yang memimpin pengembangan musik, menggabungkan ritme tradisional Papua dengan orkestrasi sinematik. "Saya sangat berharap bahwa film ini bukan cuma sekedar film saja, lagu-lagu, apa yang ditunjukkan dalam visual di dalam film ini adalah kebanggaan kami anak-anak Papua. Ini tong punya tradisi yang akan kita bawa," katanya.

Film ini memposisikan anak-anak sebagai subjek berani, bukan korban, dengan penampilan natural dari para pemeran muda yang menekankan mendengarkan dan kerjasama.

Artikel Terkait

The film 'Sandiwara,' directed by Sean Baker and starring Michelle Yeoh, will make its world premiere at the Berlin Film Festival. This project emerges from a collaboration with the fashion house Self-Portrait and highlights Malaysian culture through an immersive cinematic lens.

Dilaporkan oleh AI

After nearly a decade of writing, E. Manawari has secured a publishing deal with Penguin Random House Southeast Asia for her fantasy novel 'The Bathala Games', which reimagines Philippine mythology. The story features mythical beings and themes of belonging, drawn from her personal experiences. It opens doors for wider reach of Filipino stories.

Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat Andhika Surya Gumilar menekankan pentingnya pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual siswa untuk mencegah krisis mental di kalangan remaja. Ia menyoroti peningkatan kasus bunuh diri belakangan ini sebagai peringatan bagi dunia pendidikan. Pendidikan tidak boleh hanya fokus pada prestasi akademik, tapi juga kekuatan mental dan karakter.

Dilaporkan oleh AI

Iko Uwais is set to lead the Indonesian action film 'Warrior,' reuniting him with the Silat fighting style that defined his early career. The story follows a former Silat practitioner emerging from prison to confront a Malaysian crime syndicate threatening his community in Jakarta. Production is scheduled to begin this summer under director John Radel.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak