Gemini AI milik Google menghasilkan kode berkualitas rendah untuk skrip pembantu baru yang ditargetkan untuk pengembangan Ubuntu. Alat tersebut, yang disorot oleh Phoronix, menimbulkan kekhawatiran terkait keandalannya dalam menghasilkan kode Linux yang bersih dan berfungsi. Pengembang disarankan untuk meninjau output secara teliti.
Phoronix melaporkan tentang skrip pembantu baru yang mengintegrasikan Gemini AI milik Google untuk membantu tugas pengembangan Ubuntu. Menurut laporan tersebut, kontribusi AI sering kali menghasilkan kode ceroboh, yang berpotensi menyulitkan alur kerja pengguna dan kontributor Linux.
Skrip tersebut dirancang untuk menyederhanakan proses pengembangan di Ubuntu, distribusi Linux populer yang dikenal dengan benchmark perangkat keras dan pengujian performanya. Namun, integrasi Gemini AI tampaknya kurang memadai, menghasilkan output yang memerlukan koreksi manual yang signifikan.
Kata kunci terkait laporan mencakup ulasan perangkat keras Linux, benchmark Ubuntu, dan grafis open-source, yang menekankan konteks dalam ekosistem Linux desktop dan benchmarking server yang lebih luas. Tidak ada jadwal spesifik atau kutipan langsung dari pengembang yang dirinci dalam informasi yang tersedia, tetapi penekanannya adalah pada keterbatasan AI dalam menghasilkan kode yang tepat untuk aplikasi teknis tersebut.
Perkembangan ini menyoroti tantangan berkelanjutan dalam pemrograman berbantuan AI, khususnya untuk lingkungan khusus seperti Ubuntu. Pengguna di komunitas Linux, yang akrab dengan alat seperti Phoronix Test Suite, mungkin mendekati pembantu ini dengan hati-hati untuk memastikan integritas kode.