Komunitas pengembang Linux telah beralih dari perdebatan tentang peran AI menjadi mengintegrasikannya ke dalam proses rekayasa kernel. Pengembang kini menggunakan AI untuk pemeliharaan proyek, meskipun pertanyaan tentang menulis kode dengannya tetap ada. Kekhawatiran tentang hak cipta dan lisensi open-source tetap ada.
Dalam perkembangan terkini, alur kerja rekayasa kernel Linux telah mengalami integrasi diam-diam namun signifikan dari kecerdasan buatan. Komunitas yang dulunya fokus pada diskusi tentang potensi AI, kini menyematkannya secara mendalam ke dalam operasi harian.
Pengembang kernel Linux mengandalkan alat AI untuk mendukung tugas pemeliharaan proyek. Ini mencakup penyederhanaan proses yang menjaga basis kode yang luas tetap berfungsi dan terbaru. Namun, penggunaan AI untuk menulis kode kernel secara langsung masih menjadi isu yang belum terselesaikan, dengan perdebatan berkelanjutan tentang kelayakan dan implikasinya.
Linus Torvalds, pencipta Linux, telah menyatakan dukungan kuat untuk AI dalam konteks ini, menggambarkan dirinya dengan istilah positif terkait adopsinya. Meskipun ada kemajuan ini, tantangan masih ada. Isu hak cipta muncul dari konten yang dihasilkan AI, dan model lisensi open-source mungkin perlu disesuaikan untuk mengakomodasi alat semacam itu.
Perubahan ini menyoroti pendekatan pragmatis di kalangan pengembang, memprioritaskan efisiensi sambil menavigasi rintangan etis dan hukum. Integrasi ini menggarisbawahi kehadiran AI yang semakin besar, sering kali tidak disadari, dalam perangkat lunak dasar seperti Linux.