Pelatih baru Timnas Indonesia, John Herdman, berbagi cerita perjalanannya dalam wawancara eksklusif, mulai dari memulai melatih di usia 17 tahun hingga kesuksesan membawa Kanada ke Piala Dunia 2022. Ia menggambarkan dirinya memiliki kepribadian obsesif yang mendorong komitmen total. Inspirasi utamanya berasal dari kakeknya yang eks tentara dan Sir Bobby Robson.
John Herdman, pelatih anyar Timnas Indonesia, mengungkap awal karier kepelatihannya yang dimulai pada usia 17 tahun dalam wawancara di kanal YouTube Timnas Indonesia. Ia memperoleh kualifikasi pertama pada usia 18 tahun dan lisensi UEFA pada usia 20 tahun. "Saya memulai kepelatihan saya pada usia 17 tahun. Saya mendapat kualifikasi pertama saya pada usia 18 tahun. Lisensi UEFA saya pada usia 20 tahun, sehingga saya memiliki kepribadian obsesif ketika saya berkomitmen pada sesuatu yang saya ingin total melakukannya," ujar Herdman.
Kepribadian obsesif itu menjadi kekuatan sekaligus kelemahan, tetapi mendorongnya menjelajahi berbagai budaya sepak bola. "Itu sebuah kekuatan dan kelemahan, dan saya beranggapan bahwa komitmen, gairah pembinaan telah membawa saya dari Inggris ke Selandia Baru, ke Kanada, dan sekarang Indonesia, untuk mengalami budaya yang berbeda," tambahnya.
Perjalanan Herdman dimulai dengan tim nasional putri Selandia Baru, di mana ia meloloskan tim ke Piala Dunia Putri 2007 dan 2011, serta Olimpiade Beijing 2008. Kemudian, ia menangani tim nasional putri Kanada, meraih medali perunggu di Olimpiade London 2012 dan Rio 2016, medali emas Pan American Games 2011, serta memimpin sebagai tuan rumah Piala Dunia Putri 2015.
Pada awal 2018, Herdman beralih ke tim nasional putra Kanada, yang diperkuat pemain seperti Alphonso Davies dan Jonathan David. Di bawah kepemimpinannya, Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar, mengakhiri penantian 36 tahun sejak debut 1986 di Meksiko.
Inspirasi Herdman berasal dari kakeknya, mantan tentara dan petinju profesional yang sangat disiplin. "Saya pikir dalam hidup Anda memiliki banyak inspirasi. Kakek saya adalah inspirasi besar. Beliau petinju profesional dan juga eks tentara. Beliau sangat disiplin dan orang yang hebat," katanya. Selain itu, Sir Bobby Robson, yang melatih Newcastle United selama lima tahun dan mencapai posisi ketiga Liga Inggris 2002/2003 dengan 69 poin, menjadi figur penting. "Sebagai titik awal, Anda melihat keluarga Anda. Lalu dalam hidup, saat Anda tumbuh dan bertemu orang-orang yang berbeda, menonton Sir Bobby Robson di Newcastle United, sesama orang Inggris Utara dari latar belakang kelas pekerja, yang bisa berkelana ke banyak negara berbeda," jelas Herdman. Robson memimpin 255 pertandingan di klub tersebut.