Proyek kernel Linux telah secara resmi mendokumentasikan kebijakannya terkait kontribusi kode berbantuan AI seiring dengan perilisan Linux 7.0. Pedoman tersebut mewajibkan akuntabilitas manusia, pengungkapan penggunaan alat AI, dan tag baru 'Assisted-by' untuk patch yang melibatkan AI. Sasha Levin meresmikan konsensus yang dicapai pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Maintainer 2025.
Pada KTT Maintainer 2025, Sasha Levin mengusulkan aturan yang jelas mengenai penggunaan alat AI dalam pengembangan kernel. Kebijakan yang dihasilkan menekankan bahwa peninjau manusia harus bertanggung jawab penuh atas setiap kode yang dihasilkan AI, guna memastikan kepatuhan terhadap lisensi GPL-2.0-only. Pengajuan yang sepenuhnya dihasilkan oleh mesin tidak diterima, dan agen AI tidak dapat menyetujui patch menggunakan tag 'Signed-off-by', karena Developer Certificate of Origin menuntut akuntabilitas manusia untuk setiap kontribusi. Levin berkomitmen untuk mendokumentasikan prinsip-prinsip ini tanpa penegakan paksa, dan pedoman baru 'AI Coding Assistants' kini muncul dalam dokumentasi proses kernel bersama aturan kontribusi lainnya. Kebijakan ini dibangun berdasarkan diskusi sebelumnya, di mana Linus Torvalds mempertanyakan perlunya tag khusus dan menyarankan bahwa changelog saja sudah cukup. Namun, komunitas memilih untuk menggunakan tag 'Assisted-by', dengan format 'Assisted-by: AGENT_NAME:MODEL_VERSION [TOOL1] [TOOL2]'. Contoh yang diberikan adalah 'Assisted-by: Claude:claude-3-opus coccinelle sparse' untuk patch yang menggunakan beberapa alat. Greg Kroah-Hartman, maintainer kernel stabil, telah menerapkan pendekatan ini di branch 'clanker' miliknya. Ia menggunakan fuzzing berbantuan AI pada kode ksmbd dan SMB, mengidentifikasi masalah, serta mengirimkan perbaikan dengan instruksi agar peninjau melakukan verifikasi secara mandiri. Sebagai perbandingan, Gentoo telah melarang kontribusi yang dihasilkan AI pada tahun 2024 karena masalah hak cipta, kualitas, dan etika, sementara NetBSD melabeli kode dari LLM sebagai 'tercemar' dan memerlukan persetujuan dari pengembang inti. Linux mempertahankan sikap yang lebih permisif, dengan mengandalkan manusia untuk memvalidasi output AI.