Survei POLITICO mengungkapkan kegelisahan luas di AS terhadap kecerdasan buatan (AI) dan mata uang kripto—bahkan mencakup basis pemilih Trump dan Harris pada 2024—saat super PAC pro-industri mengucurkan puluhan juta dolar ke dalam pemilihan sela 2026. Sebagian besar responden memandang kripto terlalu berisiko dan AI berkembang terlalu cepat, dengan para pemilih lebih mendukung kandidat yang didukung oleh kelompok-kelompok yang mendorong regulasi lebih ketat.
Skeptisisme luas terhadap teknologi baru. Survei POLITICO bulan April oleh Public First (11-14 April, 2.035 orang dewasa AS, margin kesalahan ±2,2%) menemukan 45% orang Amerika memandang investasi mata uang kripto tidak sepadan dengan risikonya meskipun memiliki potensi keuntungan tinggi; lebih dari separuhnya belum pernah mempertimbangkan untuk membeli atau memperdagangkannya. Hampir separuhnya lebih memercayai bank tradisional dibandingkan platform kripto (17% lebih memilih platform kripto). Terkait AI, 44% responden mengatakan teknologinya berkembang terlalu cepat, 43% meyakini risikonya lebih besar daripada manfaatnya, dan hampir separuhnya memperkirakan AI akan lebih banyak menghilangkan lapangan kerja daripada menciptakannya. Dua pertiga responden mendukung Kongres untuk memberlakukan regulasi ketat atau prinsip-prinsip luas mengenai AI. Keraguan ini melintasi garis partisan, memengaruhi basis pendukung Donald Trump dan Kamala Harris dari tahun 2024.
Industri meningkatkan belanja politik dan lobi. Super PAC pro-AI Leading the Future (diluncurkan Agustus 2025) telah mengumpulkan lebih dari $75 juta, yang dibelanjakan untuk pemilihan pendahuluan di North Carolina, Texas, Illinois, dan New York bagi kandidat bipartisan. Fairshake yang pro-kripto—didukung oleh Coinbase, Andreessen Horowitz, dan Ripple Labs—telah menghabiskan $28 juta untuk perlombaan yang kompetitif dan berencana memberikan lebih banyak dukungan bipartisan. Keduanya mendesak kerangka kerja federal seperti CLARITY Act untuk kripto dan kebijakan AI yang terpadu guna mengantisipasi aturan yang tidak seragam antarnegara bagian, di tengah rekor lobi Q1 2026 oleh OpenAI, Anthropic, dan perusahaan lainnya. “Kerangka kerja nasional akan mencegah ketidakseragaman undang-undang negara bagian yang bertentangan yang dapat merugikan kemampuan kita untuk memenangkan perlombaan AI global melawan Tiongkok,” ujar Jesse Hunt dari Leading the Future.
Kesadaran rendah namun berpotensi memicu reaksi pemilih. Hanya 9% yang mengenali Leading the Future dan 3% mengenali Fairshake (dibandingkan 48% untuk NRA), namun 41% responden melihat kelompok kepentingan khusus memiliki pengaruh yang terlalu besar. Responden lebih menyukai kandidat yang didukung oleh pendukung regulasi ketat dibandingkan mereka yang pro-industri. Senator Chris Murphy (D-Conn.) mendesak Partai Demokrat untuk menyoroti pengeluaran tersebut: “Masyarakat tidak ingin perusahaan AI mengendalikan mereka secara budaya dan ekonomi. Mereka tidak memercayai kripto.” Jason Thielman, mantan direktur eksekutif NRSC, menekankan pentingnya edukasi mengenai peran AI dalam keamanan nasional. Mantan anggota DPR Jim Renacci (R-Ohio) mencatat: “Jika mereka melihat seseorang didukung oleh kripto, itu akan selalu menjadi masalah.” Para pengamat memperingatkan bahwa skeptisisme dapat memicu reaksi balik seiring munculnya hubungan-hubungan tersebut.