PBB adopsi resolusi yang mendukung putusan iklim MK

Mayoritas anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan suara pada hari Rabu untuk mendukung pendapat penasihat penting dari Mahkamah Internasional (ICJ) terkait tanggung jawab perubahan iklim. Resolusi tersebut menandakan dukungan politik yang luas untuk meminta pertanggungjawaban negara-negara yang gagal mengatasi pemanasan global. Lebih dari 140 negara mendukung langkah tersebut sementara delapan negara menentangnya.

Pemungutan suara ini dilakukan setelah kampanye yang dimulai enam tahun lalu ketika mahasiswa hukum di University of the South Pacific mendesak pemerintah Vanuatu untuk mencari panduan dari mahkamah tersebut. Pada tahun 2025, ICJ memutuskan secara bulat bahwa negara-negara memiliki kewajiban hukum untuk melindungi planet ini dan bahwa negara-negara yang terdampak dapat menuntut reparasi atas kerusakan akibat iklim. Pendapat yang tidak mengikat tersebut menggambarkan kelambanan sebagai tindakan yang salah.

Artikel Terkait

Illustration of a Chinese report criticizing unilateral deep-sea mining and continental shelf claims, with ocean maps and mining equipment.
Gambar dihasilkan oleh AI

China report criticizes unilateral actions eroding UNCLOS order

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

A Chinese institute under the Ministry of Natural Resources released a report on Tuesday criticizing a major non-party power for unilaterally delineating an extended continental shelf and advancing deep-sea mining.

Para pemimpin dan advokat masyarakat adat berkumpul di Forum Permanen PBB untuk Masalah Masyarakat Adat pekan ini guna membahas cara menegakkan putusan pengadilan internasional terkait aksi iklim. Mereka menyoroti kesenjangan antara keputusan hukum dan kepatuhan pemerintah, yang secara khusus berdampak pada komunitas rentan. Para pembicara mendesak agar putusan ini digunakan sebagai alat untuk melindungi tanah dan hak-hak masyarakat adat.

Dilaporkan oleh AI

The United Nations Human Rights Council adopted by consensus a Philippine-led resolution on human rights and climate change on Monday.

Ten years after the Philippines prevailed in its case against China, Filipinos are urged to defend the 2016 Arbitral Award against disinformation.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak