Aurelie Moeremans merilis buku memoar Broken Strings yang mengungkap pengalaman grooming saat usia 15 tahun oleh pria lebih tua, memicu dukungan publik dan reaksi dari Roby Tremonti yang merasa ditargetkan. Buku tersebut dibagikan gratis dan viral di media sosial, sementara Roby mengaku menerima ancaman dan berharap klarifikasi di podcast Denny Sumargo.
Aurelie Moeremans, aktris asal Belgia yang berkarier di Indonesia, merilis buku memoar berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth pada 13 Januari 2026. Buku ini menceritakan perjalanan hidupnya, termasuk pengalaman bullying di masa kecil dan grooming saat berusia 15 tahun oleh seorang pria bernama Bobby, yang usianya dua kali lipat darinya. Aurelie menggambarkan hubungan tersebut penuh manipulasi, kontrol, dan kekerasan fisik serta psikis yang merenggut masa mudanya.
Buku tersebut dibagikan secara gratis melalui tautan di bio Instagram Aurelie, dengan versi bahasa Indonesia dan Inggris tersedia di Google Drive. Viralnya potongan bab di media sosial menuai dukungan luas bagi Aurelie sebagai penyintas, meski juga memicu rasa penasaran dan spekulasi. Feni Rose, pembawa acara, setelah membacanya, menyampaikan penyesalan mendalam di Threads: "Terasa sekali ketakutan, kebingungan, ketidakberdayaannya dan keputusasaannya saat itu." Ia berharap korban segera menyelamatkan diri dari relasi berbahaya.
Kontroversi memuncak ketika Roby Tremonti, mantan kekasih Aurelie, merasa sebagai sosok Bobby meski nama tidak disebut. Roby mengaku menerima ancaman dan hujatan di media sosial, termasuk risiko bagi keluarganya: "Kalau saya dibakar gimana? Keluarga saya gimana?" Ia membantah tuduhan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan klaim pernikahan agama yang tidak disahkan secara sipil karena restu orang tua Aurelie. Aurelie membantah pernikahan itu sah dan telah dibatalkan gereja, memungkinkannya menikah dengan Tyler Bigenho.
Roby, yang diam selama 16 tahun, kini mempertimbangkan langkah hukum dan berharap diundang ke podcast Denny Sumargo untuk klarifikasi: "Saya cuma pengen keluarga saya, mama saya, kami mau hidup tenang." Aurelie sendiri mengaku kembali diteror: "Lucunya, ada yang merasa, lalu malah ganggu aku lagi." Insiden ini menyoroti isu cancel culture di era digital.