Alat parlementer yang jarang digunakan yang dikenal sebagai petisi pembebasan telah bangkit kembali di DPR AS. Mekanisme ini memungkinkan anggota parlemen memaksa pemungutan suara atas RUU dengan melewati kendali Ketua DPR. Baru-baru ini digunakan untuk undang-undang terkait file Epstein dan perpanjangan subsidi Affordable Care Act.
Petisi pembebasan, sebuah alat prosedural di DPR AS, memungkinkan mayoritas anggota memaksa pemungutan suara atas RUU tanpa persetujuan Ketua DPR. Selama beberapa dekade, taktik ini telah jatuh ke dalam kelupaan, jarang digunakan dalam praktik kongres modern.
Perkembangan terkini telah menghidupkan kembali proses tersebut. Anggota parlemen telah mengajukan petisi pembebasan untuk memajukan RUU terkait pelepasan file Jeffrey Epstein, financier yang dihukum karena perdagangan seks. Petisi lain menargetkan perpanjangan subsidi di bawah Affordable Care Act (ACA), bertujuan mempertahankan keterjangkauan perawatan kesehatan bagi jutaan orang.
Menurut laporan NPR oleh Sam Gringlas, upaya ini menyoroti frustrasi yang semakin besar di kalangan anggota DPR yang berusaha menghindari kemacetan kepemimpinan. Petisi-petisi ini mewakili penegasan kekuasaan yang langka dari bangku belakang di majelis yang sering didominasi oleh pemimpin partai.
Meskipun keberhasilan petisi ini masih tidak pasti—memerlukan 218 tanda tangan untuk dilanjutkan—mereka menggarisbawahi ketegangan di DPR yang dikuasai Republik. Secara historis, petisi pembebasan hanya berhasil beberapa kali sejak 1990-an, tetapi kebangkitannya menandakan pergeseran potensial dalam dinamika legislatif.