Komisi Persaingan Usaha India (CCI) telah menetapkan sidang terakhir pada 21 Mei dalam kasus antimonopoli terhadap Apple, setelah perusahaan tersebut gagal menyerahkan data keuangan yang diperlukan. Regulator menuduh Apple menyalahgunakan dominasi App Store dengan memaksa pengembang menggunakan sistem pembayaran dalam aplikasi miliknya. Apple berargumen bahwa Android memiliki pangsa pasar yang lebih besar di India dan memperingatkan potensi denda hingga $38 miliar.
Komisi Persaingan Usaha India memberi tahu Apple mengenai jadwal sidang mendatang, sebagaimana pertama kali dilaporkan oleh Reuters. Penyelidikan antimonopoli dimulai pada Oktober 2024, dengan fokus pada praktik Apple terkait App Store. CCI menyatakan bahwa Apple telah memiliki banyak kesempatan untuk memberikan informasi keuangan serta pandangan mereka terhadap investigasi tersebut namun belum mematuhinya. Data ini diperlukan untuk menghitung jumlah penalti. Apple telah diberikan waktu dua minggu tambahan untuk mengirimkan tanggapan sebelum tanggal 21 Mei. Kasus ini berpusat pada tuduhan bahwa Apple mengeksploitasi posisinya dengan mengharuskan pengembang untuk mengarahkan pembelian dalam aplikasi melalui sistem eksklusif milik Apple. Apple membantah dengan menyatakan bahwa Android mendominasi pasar ponsel pintar India, sementara iPhone meraih pangsa pasar sembilan persen pada 2025, menurut Counterpoint Research. Apple menyoroti risiko denda yang mencapai $38 miliar dan merujuk pada tantangan terpisah terhadap kerangka kerja penalti antimonopoli di India. Hal ini menandai perselisihan lain antara Apple dan otoritas India, menyusul sengketa sebelumnya mengenai pra-instal aplikasi milik negara Sanchar Saathi, yang kemudian dibatalkan oleh pemerintah. CCI menunjukkan fleksibilitas yang lebih rendah dalam masalah ini, dengan terus melanjutkan proses persidangan akhir.