Magnet mini menyaingi kekuatan magnet terbesar di dunia

Para ilmuwan di ETH Zurich telah mengembangkan magnet superkonduktor seukuran telapak tangan yang menghasilkan medan magnet hingga 42 Tesla, setara dengan kekuatan raksasa laboratorium besar. Terobosan ini menggunakan bahan komersial yang tersedia dan membutuhkan daya minimal, berpotensi membuat teknologi magnet canggih lebih mudah diakses. Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan teknik resonansi magnetik nuklir untuk analisis molekul.

Magnet kuat sangat penting di bidang seperti pencitraan MRI, akselerator partikel, dan fusi nuklir, tetapi yang paling kuat, dibuat dari superkonduktor, biasanya sangat besar dan boros energi. Alexander Barnes dan timnya di ETH Zurich di Swiss telah mengubah itu dengan menciptakan magnet superkonduktor kompak yang berdiameter hanya 3,1 milimeter.  nnPerangkat ini dibangun dengan melilitkan pita tipis dari bahan keramik yang disebut REBCO, yang bersuperkonduksi pada suhu sangat rendah. Ketika arus listrik melewati kumparan ini, mereka menghasilkan medan magnet kuat. Para peneliti membeli pita REBCO dari pemasok komersial dan mengiterasi lebih dari 150 desain. Seperti yang dijelaskan Barnes, “Strategi kami adalah mengembangkan dan merangkul pendekatan ‘gagal sering dan gagal cepat’.”nnDesain akhir mereka menampilkan dua atau empat kumparan berbentuk pancake, mencapai kekuatan medan 38 Tesla dengan dua kumparan dan 42 Tesla dengan empat. Untuk konteks, magnet kulkas biasa menghasilkan kurang dari 0,01 Tesla, sementara magnet medan tetap terkuat di dunia mencapai sekitar 45 Tesla tetapi berbobot banyak ton dan mengonsumsi hingga 30 megawatt daya. Sebaliknya, magnet baru ini lebih kecil dari tangan dan menggunakan kurang dari 1 watt.nnTujuan tim adalah menerapkan magnet ini pada resonansi magnetik nuklir (NMR), teknik untuk menentukan struktur molekul dalam obat-obatan dan katalis industri. Saat ini, NMR dibatasi oleh ukuran dan biaya magnet yang diperlukan, tetapi versi kompak ini dapat memperluas akses bagi ahli kimia. Para peneliti telah mulai mengujinya dalam pengaturan NMR.nnMark Ainslie di King’s College London memuji pencapaian ini: “Menghasilkan medan magnet di atas 40 Tesla secara tradisional membutuhkan fasilitas sangat besar dan mahal, sehingga mencapai kekuatan medan serupa dalam perangkat kompak seperti ini menggunakan pita superkonduktor sangat signifikan.” Ia menambahkan, “Ini menunjukkan bahwa magnet medan sangat tinggi bisa menjadi lebih mudah diakses oleh berbagai laboratorium dalam waktu dekat.” Namun, tantangan tetap ada, termasuk memastikan keseragaman medan dan mengendalikan perilaku elektromagnetik kumparan.nnPekerjaan ini dirinci dalam Science Advances (DOI: 10.1126/sciadv.adz5826).

Artikel Terkait

MIT terahertz microscope revealing quantum vibrations in a superconductor crystal, with scientists observing in a lab.
Gambar dihasilkan oleh AI

MIT builds terahertz microscope to observe quantum motions in superconductors

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Physicists at MIT have developed a new microscope using terahertz light to directly observe hidden quantum vibrations inside a superconducting material for the first time. The device compresses terahertz light to overcome its wavelength limitations, revealing frictionless electron flows in BSCCO. This breakthrough could advance understanding of superconductivity and terahertz-based communications.

Scientists at the University of Basel and ETH Zurich have reversed the polarity of a specialized ferromagnet with a focused laser beam, without heating the material. This achievement, detailed in Nature, combines electron interactions, topology, and dynamical control in a single experiment. The method hints at future light-based electronic circuits on chips.

Dilaporkan oleh AI

Scientists at the Helmholtz-Zentrum Dresden-Rossendorf have discovered previously unseen Floquet states inside extremely small magnetic vortices using minimal energy from magnetic waves. This finding, which challenges prior assumptions, could link electronics, spintronics, and quantum technologies. The results appear in Science.

New data from the European Space Agency's Swarm satellites reveal that the South Atlantic Anomaly, a weak spot in Earth's magnetic field, has grown by nearly half the size of continental Europe since 2014. A region southwest of Africa is weakening even faster in recent years. This expansion highlights unusual activity in Earth's molten outer core.

Dilaporkan oleh AI

Researchers in Australia have developed and tested what is described as the world's first proof-of-concept quantum battery, which charges faster as it scales up. Led by CSIRO in partnership with the University of Melbourne and RMIT, the prototype leverages quantum mechanics for rapid energy absorption. Findings were published in Light: Science & Applications.

Researchers at Helmholtz-Zentrum Dresden-Rossendorf have filmed copper atoms losing and regaining electrons in femtoseconds using dual lasers. The experiment creates superheated plasma mimicking extreme cosmic conditions. Findings could advance laser fusion research.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak