Qunnect mengembangkan perangkat untuk keterkaitan kuantum di New York

Qunnect, perusahaan berbasis Brooklyn, telah menciptakan teknologi untuk berbagi foton yang terjalin secara kuantum untuk jaringan komunikasi aman. Perusahaan ini baru-baru ini berhasil melakukan pertukaran keterkaitan melalui 17,6 kilometer kabel serat optik antara Brooklyn dan Manhattan. Kemajuan ini mendukung pengembangan internet kuantum yang tidak bisa diretas.

Qunnect telah mendedikasikan hampir satu dekade untuk merancang perangkat yang memungkinkan distribusi praktis foton yang terjalin secara kuantum, yang esensial untuk sistem komunikasi yang tidak bisa diretas. Di markas besarnya di Brooklyn, New York, para peneliti merakit laser, lensa, dan kristal menjadi kotak magenta kompak yang membentuk sistem rak Carina.  nnPada Februari, tim Qunnect mendemonstrasikan pertukaran keterkaitan melalui 17,6 kilometer kabel serat optik yang menghubungkan Brooklyn dan Manhattan melalui pusat data komersial. Proses ini mentransfer keterkaitan kuantum dari satu pasang foton ke pasang lainnya, memperluas keamanan ke jarak yang lebih jauh. Sistem tersebut secara andal menukar keterkaitan untuk 5400 pasang foton per jam, beroperasi secara otonom selama berhari-hari—laju dua kali lipat dari eksperimen sebelumnya.  nnFoton yang terjalin berasal dari perangkat yang berisi uap atom rubidium, dieksitasi oleh cahaya laser untuk menghasilkan pasangan. Penyesuaian, seperti sudut masuk laser, telah meningkatkan efisiensi produksi. Foton ini melakukan perjalanan melalui jaringan serat optik Kota New York ke institusi seperti New York University dan Columbia University.  nnMehdi Namazi dari Qunnect menjelaskan proses pengaturan: «Jika Anda memiliki dua rak [Carina] ini, Anda bisa mendistribusikan keterkaitan dalam beberapa jam.» Peter Feldman dari QTD Systems, yang mengoperasikan pusat data Manhattan, mencatat kemudahan penggunaan: «Saya tidak perlu tahu apa pun tentang fisika kuantum.» Perangkat mendukung kontrol jarak jauh dan operasi otonom selama berminggu-minggu.  nnJaringan kuantum serupa beroperasi di Hefei, China, dan Chicago, Illinois, meskipun tantangan seperti kehilangan foton pada jarak jauh masih ada. Teknologi Qunnect sudah menawarkan aplikasi, seperti mengintegrasikan foton terjalin dengan aliran data klasik untuk mendeteksi upaya intersepsi. Alexander Gaeta dari Columbia University menyoroti potensi untuk verifikasi identitas berbasis lokasi dalam pertukaran aman. Javad Shabani dari New York University menunjuk pada institusi keuangan terdekat sebagai calon penerima: «Setelah Anda memiliki infrastrukturnya, pengguna akhir akan datang, dan mereka mungkin di seberang jalan.»

Artikel Terkait

MIT terahertz microscope revealing quantum vibrations in a superconductor crystal, with scientists observing in a lab.
Gambar dihasilkan oleh AI

MIT membangun mikroskop terahertz untuk mengamati gerakan kuantum dalam superkonduktor

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Fisikawan di MIT telah mengembangkan mikroskop baru yang menggunakan cahaya terahertz untuk secara langsung mengamati getaran kuantum yang tersembunyi di dalam bahan superkonduktor untuk pertama kalinya. Perangkat ini memampatkan cahaya terahertz untuk mengatasi keterbatasan panjang gelombangnya, sehingga dapat mengungkap aliran elektron tanpa gesekan di dalam BSCCO. Terobosan ini dapat memajukan pemahaman tentang superkonduktivitas dan komunikasi berbasis terahertz.

Physicist Pan Jianwei and his team have demonstrated device-independent quantum key distribution over 100 kilometers using single atoms, helping to close the gap between lab experiments and real-world applications. The breakthrough enhances security through the quantum-mechanical behavior of entangled atoms, protecting quantum communication systems from real-world vulnerabilities even if devices are flawed or tampered with.

Dilaporkan oleh AI

Para peneliti telah memanfaatkan jeratan kuantum untuk menghubungkan atom melintasi ruang, mencapai akurasi tak tertandingi dalam mengukur kuantitas fisik. Dengan memisahkan awan atom terjerat, tim meningkatkan deteksi medan elektromagnetik. Terobosan ini dapat menyempurnakan jam atom dan sensor gravitasi.

Chinese researchers unveiled a gravity detector using a superconducting quantum interference device (SQUID) last month, achieving world-leading precision in a compact design usable outside labs. According to a Chinese Academy of Sciences (CAS) report, it measures tiny gravity shifts to detect objects. The technology brings China closer to spotting patrolling nuclear submarines.

Dilaporkan oleh AI

Peneliti telah mengamati secara eksperimental geometri kuantum tersembunyi dalam material yang mengarahkan elektron mirip dengan bagaimana gravitasi membelokkan cahaya. Penemuan ini, yang dibuat di antarmuka dua material oksida, dapat memajukan elektronik kuantum dan superkonduktivitas. Diterbitkan di Science, temuan ini menyoroti efek yang lama diteorikan dan kini dikonfirmasi dalam kenyataan.

Untuk pertama kalinya, para peneliti telah menunjukkan cahaya berperilaku seperti efek Hall kuantum, fenomena yang sebelumnya hanya diamati pada elektron. Fotón sekarang bergeser ke samping dalam langkah-langkah terkuantisasi yang ditentukan oleh konstanta fundamental. Terobosan ini dapat meningkatkan pengukuran presisi dan memajukan teknologi fotonik kuantum.

Dilaporkan oleh AI

Chinese researchers have controlled a temporary stable phase in quantum systems, putting quantum chaos in slow motion and offering a possible avenue for preserving quantum information. This allows scientists to tune the speed of quantum decoherence, providing a vital tool for managing complex quantum environments.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak