Peneliti mengungkap mekanisme pergerakan bakteri baru tanpa flagela

Ilmuwan di Arizona State University telah mengidentifikasi dua cara tak terduga yang memungkinkan bakteri menyebar tanpa struktur flagela biasa mereka. Dalam satu studi, E. coli dan salmonella menggunakan fermentasi gula untuk menciptakan arus fluida guna migrasi permukaan, yang disebut 'swashing.' Studi terpisah mengungkap 'gearbox' molekuler pada flavobakteri yang mengendalikan pergerakan arah.

Penelitian baru dari Arizona State University menunjukkan bahwa bakteri memiliki metode propulsi alternatif selain flagela tipikal mereka, yaitu struktur seperti cambuk yang biasanya memungkinkan pergerakan. Temuan ini menyoroti adaptabilitas mikroba dalam menyebar melintasi permukaan, dengan implikasi potensial untuk pengendalian infeksi.  penelitian pertama, yang dipimpin oleh Navish Wadhwa dari Biodesign Center for Mechanisms of Evolution dan Department of Physics di ASU, para peneliti memeriksa E. coli dan salmonella. Bahkan dengan flagela yang dinonaktifkan, bakteri ini bermigrasi melintasi permukaan lembap dengan memfermentasi gula seperti glukosa, maltosa, atau xilosa. Proses ini melepaskan produk sampingan asam seperti asetat dan format, yang menghasilkan arus fluida keluar kecil yang mendorong koloni bakteri, sebuah fenomena yang dinamakan 'swashing.' Studi tersebut, yang diterbitkan di Journal of Bacteriology dan dipilih sebagai Editor's Pick, menunjukkan bahwa swashing memerlukan gula yang dapat difermentasi dan dapat dihentikan oleh surfaktan, tidak seperti swarming yang didukung flagela.  Wadhwa menyatakan, «Kami kagum dengan kemampuan bakteri ini bermigrasi melintasi permukaan tanpa flagela yang berfungsi. Faktanya, kolaborator kami awalnya merancang eksperimen ini sebagai 'kontrol negatif,' artinya kami mengharapkan, setelah flagela dihilangkan, sel-sel tersebut tidak bergerak.» Ia menambahkan, «Tetapi bakteri tersebut bermigrasi dengan leluasa, seolah tidak ada yang salah, yang memicu kami pada pencarian selama beberapa tahun untuk memahami bagaimana mereka melakukannya.»  Mekanisme ini dapat menjelaskan kolonisasi bakteri pada perangkat medis, luka, peralatan makanan, serta situs tubuh seperti lendir atau saluran kemih, di mana lingkungan lembap kaya gula mendominasi. Menyesuaikan faktor seperti pH atau kadar gula mungkin dapat membatasi penyebaran semacam itu.  Studi kedua berfokus pada flavobakteri, yang meluncur menggunakan sistem sekresi tipe 9 (T9SS), sabuk konveyor molekuler yang menyerupai snowmobile. Sebuah protein bernama GldJ berfungsi sebagai penggeser gigi, yang membalik arah motor dari berlawanan arah jarum jam menjadi searah jarum jam ketika diubah, sehingga memungkinkan navigasi yang tepat. Diterbitkan di mBio, penelitian ini dilakukan oleh Shrivastava dari Biodesign Center for Fundamental and Applied Microbiomics, Biodesign Center for Mechanisms of Evolution, dan School of Life Sciences ASU.  Shrivastava menyatakan, «Kami sangat gembira telah menemukan sistem nanogear dua-fungsi yang luar biasa yang mengintegrasikan mekanisme umpan balik, mengungkap snowmobile biologis yang dapat dikendalikan dan menunjukkan bagaimana bakteri secara presisi menyempurnakan motilitas dan sekresi di lingkungan dinamis.»  T9SS memengaruhi kesehatan secara bervariasi: di mikrobioma mulut, terkait dengan penyakit gusi, inflamasi, penyakit jantung, dan Alzheimer; di usus, melindungi antibodi, membantu pertahanan imun dan vaksin. Kedua studi ini menggarisbawahi perlunya strategi yang menargetkan metabolisme atau sistem molekuler, bukan hanya flagela, untuk membatasi infeksi dan biofilm.

Artikel Terkait

Microscopic view of bacterial cell with biomolecular condensates featuring internal protein filament scaffolds, illustrating new research findings.
Gambar dihasilkan oleh AI

Studi menemukan «rangka» filamen di dalam kondensat biomolekuler bakteri, menyarankan sudut terapi baru

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI Fakta terverifikasi

Para ilmuwan di Scripps Research melaporkan bahwa beberapa kondensat biomolekuler—kompartemen sel seperti tetesan tanpa membran—mengandung jaringan filamen protein tipis yang berfungsi sebagai kerangka internal. Tim mengatakan bahwa mengganggu arsitektur filamen ini mengubah sifat fisik kondensat dan menghambat pertumbuhan bakteri serta segregasi DNA, menimbulkan kemungkinan bahwa struktur kondensat suatu hari bisa menjadi target terapeutik dalam penyakit seperti kanker dan ALS. Studi itu muncul di Nature Structural & Molecular Biology pada 2 Februari 2026.

Para peneliti di Oregon Health & Science University telah mengidentifikasi aliran cairan tersembunyi di dalam sel yang dengan cepat mengangkut protein ke tepi depan, menantang pandangan tradisional tentang pergerakan seluler. Penemuan yang dilakukan selama eksperimen di kelas ini dapat menjelaskan mengapa beberapa sel kanker menyebar secara agresif. Temuan ini diterbitkan dalam Nature Communications.

Dilaporkan oleh AI

Para peneliti di John Innes Centre telah mengidentifikasi sistem tiga gen yang menyebabkan bakteri pecah, melepaskan partikel mirip virus yang membagikan DNA, termasuk gen resistensi antibiotik. Sistem yang disebut LypABC ini menyerupai sistem pertahanan kekebalan bakteri yang dialihfungsikan. Temuan yang dipublikasikan dalam Nature Microbiology ini menyoroti bagaimana bakteri memfasilitasi transfer gen horizontal.

Para ilmuwan di Johns Hopkins telah menemukan bahwa Fusobacterium nucleatum, bakteri yang terkait dengan penyakit gusi, dapat berpindah ke jaringan payudara melalui aliran darah, menyebabkan kerusakan DNA dan mempercepat pertumbuhan dan penyebaran tumor. Efeknya terutama terlihat pada sel dengan mutasi BRCA1. Penelitian ini menyoroti hubungan potensial antara kesehatan mulut dan risiko kanker payudara.

Dilaporkan oleh AI

Para ilmuwan menemukan cara baru sel embrio besar membelah tanpa cincin kontraktil lengkap, menantang model tradisional. Menggunakan embrio zebrafish, peneliti mengidentifikasi sistem ratchet mekanis yang melibatkan mikrotubulus dan perubahan kekakuan sitoplasma. Temuan, yang diterbitkan di Nature, menjelaskan pembelahan pada sel kaya kuning telur berbagai spesies.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak