Sebuah kapal kargo milik Thailand, Mayuree Naree, diserang dari udara di Selat Hormuz pada 11 Maret 2026, menyebabkan kebakaran hebat di buritan kapal. Sebanyak 20 dari 23 kru diselamatkan oleh Angkatan Laut Oman, sementara tiga lainnya masih dicari. Penyebab serangan masih dalam penyelidikan di tengah konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Pada Rabu pagi, 11 Maret 2026, kapal kargo Mayuree Naree milik Thailand dengan bobot 30.000 ton diserang dari udara saat melintasi Selat Hormuz setelah meninggalkan pelabuhan Khalifa di Uni Emirat Arab. Serangan tersebut memicu kebakaran hebat di bagian buritan kapal, menurut pernyataan Laksamana Muda Parach Rattanachaiphan dari Angkatan Laut Thailand.
"Kapal kargo Thailand Mayuree Naree, dengan bobot 30.000 ton, diserang dari udara pada Rabu pagi setelah meninggalkan pelabuhan Khalifa di Uni Emirat Arab (UEA). Serangan terjadi saat kapal melintasi Selat Hormuz dan terjadi kebakaran hebat di buritan kapal," kata Rattanachaiphan kepada wartawan.
Pusat Operasi Angkatan Laut Thailand segera menghubungi Angkatan Laut Oman dan Kedutaan Besar Thailand di Oman melalui saluran internasional untuk operasi pencarian dan penyelamatan. Hingga saat ini, 20 kru telah diselamatkan dan dibawa ke daratan Oman untuk perawatan. Operasi untuk tiga kru yang tersisa masih berlangsung.
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan regional yang meningkat. Tiga kapal di lepas pantai Iran dilaporkan terkena proyektil di sekitar Selat Hormuz, dan lalu lintas pelayaran melalui selat strategis tersebut hampir terhenti sejak serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sumber dan penyebab serangan terhadap Mayuree Naree belum diketahui dan sedang diselidiki.
Konflik di Timur Tengah ini juga memengaruhi pasar keuangan, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia turun 51,51 poin atau 0,69 persen menjadi 7.839,40 pada penutupan perdagangan 11 Maret 2026, sebagian besar karena penurunan sektor energi sebesar 2,01 persen akibat konflik yang berlanjut.