UNESCO peringatkan risiko tsunami yang tak terelakkan di Mediterania

Para ilmuwan telah menyoroti ancaman tsunami yang signifikan terhadap French Riviera dan garis pantai Mediterania lainnya, dengan UNESCO menyatakan adanya peluang 100 persen terjadinya gelombang setinggi setidaknya satu meter dalam 30 tahun ke depan sejak 2022.

Laut Mediterania memegang rekor jumlah tsunami historis terbanyak kedua setelah Pasifik, dengan sekitar 20 insiden di sepanjang French Riviera dari abad ke-16 hingga awal tahun 2000-an. Peristiwa penting yang tercatat termasuk tsunami Nice tahun 1979 yang dipicu oleh keruntuhan bawah laut, yang menewaskan delapan orang, serta dampak dari gempa bumi Boumerdès tahun 2003 di Aljazair yang mencapai pantai Prancis dalam waktu sekitar 75 menit.

Artikel Terkait

Illustration of 7.6 magnitude earthquake aftermath near Bitung, with shaking buildings in Manado, evacuating residents, and rising tsunami waves.
Gambar dihasilkan oleh AI

Magnitude 7.6 earthquake hits near Bitung, tsunami warning issued

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

A magnitude 7.6 earthquake struck waters near Bitung, North Sulawesi, on Thursday morning at 06:48 Wita, triggering an early tsunami warning for North Sulawesi and North Maluku. Strong shaking was felt as far as Manado and Gorontalo, resulting in two casualties in Manado. BMKG confirmed the location at 1.25 N, 126.27 E, depth 62 km.

A huge landslide in Alaska's Tracy Arm fjord on 10 August 2025 generated the second-largest tsunami ever recorded, with waves reaching 481 metres high. The event displaced 64 million cubic metres of rock and created a 5.4 magnitude seismic signal.

Dilaporkan oleh AI

A new analysis reveals that most studies on coastal vulnerability have underestimated current sea levels by an average of 24 to 27 centimetres because they overlooked key oceanographic factors. This methodological blind spot means that flooding and erosion risks will materialize sooner than previously projected, potentially affecting millions more people by 2100. Researchers from Wageningen University highlight the need for better integration of sea-level data in climate impact assessments.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak