Pasukan khusus Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya pada Sabtu lalu dalam Operasi Absolute Resolve, yang melibatkan pemboman Caracas. Tindakan ini memicu gejolak pasar minyak global dan pernyataan Trump tentang pembatasan penggunaan dana minyak Venezuela. Presiden AS memuji operasi tersebut sebagai brilian sambil menuduh Maduro meniru tarian ikoniknya.
Pada Sabtu pekan lalu, pasukan Amerika Serikat melancarkan Operasi Absolute Resolve di Venezuela, memasuki wilayah tersebut, membombardir Caracas, dan menangkap Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dari istana kepresidenan. Operasi ini merupakan bagian dari perang melawan kartel dan gembong narkoba, menurut pernyataan Gedung Putih.
Dalam pidato di Kennedy Centre pada Selasa, 5 Januari 2026, Presiden Donald Trump memuji keberhasilan operasi tersebut. "Pasukan khusus AS brilian," katanya. Trump juga menuduh Maduro menirukan tarian ikoniknya dengan lagu 'Y.M.C.A.' saat merayakan penangkapan. "Dia naik ke atas panggung dan mencoba sedikit menirukan tarian saya. Tapi dia orang yang kejam, dan dia sudah membunuh jutaan orang," ujar Trump, dikutip dari WIONews.
Pada Rabu, 7 Januari 2026, Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa dana hasil penjualan minyak Venezuela hanya boleh digunakan untuk membeli produk AS. "Venezuela HANYA akan membeli produk buatan Amerika, dengan uang yang mereka terima dari kesepakatan minyak baru kami," tulisnya. Pembelian mencakup produk pertanian, obat-obatan, alat kesehatan, serta peralatan untuk jaringan listrik dan energi Venezuela. Trump menyebut ini sebagai pilihan bijaksana yang menguntungkan kedua negara.
Langkah ini menyusul perintah Trump agar otoritas AS di Venezuela menyerahkan 50 juta barel minyak ke New York, yang memicu fluktuasi harga minyak dunia. Minyak Brent turun 0,51 persen menjadi US$60,39 per barel, sementara West Texas Intermediate naik 0,61 persen menjadi US$56,33 per barel pada 7.30 pagi waktu Singapura. Bursa Asia dibuka beragam pada Kamis, 8 Januari 2026, dengan Nikkei 225 melemah 0,46 persen dan Kospi menguat 0,12 persen, mencerminkan ketegangan geopolitik.
Latar belakang operasi ini menyoroti ketegangan AS-Venezuela yang telah berlangsung lama, dengan Trump menekankan komitmen Venezuela untuk berbisnis dengan AS sebagai mitra utama.