Bahlil percepat mandatori campuran etanol ke BBM akibat harga minyak dunia melonjak

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berencana mempercepat penerapan kebijakan mandatori campuran bioetanol ke bahan bakar minyak (BBM) sebagai respons terhadap harga minyak dunia yang mencapai US$118 per barel. Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor dan menjaga pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah.

Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan akan mempercepat implementasi kebijakan mandatori campuran bioetanol ke BBM, didorong oleh kenaikan harga minyak dunia hingga US$118 per barel. Pernyataan ini disampaikan Bahlil saat berada di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Senin, 9 Maret 2026.

Sebelumnya, pemerintah merencanakan penerapan E20, yaitu campuran 20 persen etanol pada bensin, mulai tahun 2028 untuk mengurangi impor bensin. Namun, dengan situasi harga minyak fosil yang melebihi US$100 per barel, Bahlil menilai blending etanol akan lebih ekonomis. "Karena kalau harga minyak fosilnya bisa melampaui 100 dolar AS per barel, maka itu akan lebih murah kalau kita blending (campur)," ujar Bahlil.

Kebijakan ini juga dipengaruhi dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada negara-negara bergantung energi fosil. "Kami bikin mandatori untuk bensin dan itu lebih bersih," tambahnya. Selain E20, Bahlil berencana mempercepat biodiesel 50 persen atau B50, yang terdiri dari 50 persen solar dan 50 persen bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit. Saat ini, Indonesia menerapkan mandatori B40, sementara B50 masih dalam tahap kajian.

Langkah-langkah ini merupakan upaya pemerintah mencari alternatif terbaik untuk menjaga pasokan energi nasional. "Jadi, ada beberapa langkah yang akan kami lakukan. Sudah barang tentu dengan kondisi yang ada, maka pemerintah berpikir untuk mencari alternatif terbaik dalam rangka menjaga pasokan energi nasional," kata Bahlil.

Artikel Terkait

Illustration depicting Middle East conflict-induced oil price surge weakening Indonesia's rupiah and stocks, amid government fuel price stability pledge.
Gambar dihasilkan oleh AI

Middle East conflict triggers oil price surge and economic pressure on Indonesia

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Escalation of conflict between the US, Israel, and Iran in the Middle East has driven global oil prices above US$100 per barrel, weakening the rupiah to Rp17,000 and sharply dropping the IHSG. The Indonesian government asserts the domestic economy remains in expansion despite risks of inflation and layoffs. Energy Minister Bahlil Lahadalia guarantees no increase in subsidized fuel prices until Eid.

Energy and Mineral Resources Minister Bahlil Lahadalia affirmed that the government will not raise prices of subsidized fuel oil (BBM) and LPG amid the Middle East geopolitical crisis. The statement came after opening the XI Regional Conference of Golkar Party in North Sulawesi in Manado on April 11, 2026. National stocks of BBM and LPG are secure for days ahead.

Dilaporkan oleh AI

Indonesia's mandatory biodiesel policy has reduced reliance on fuel imports, particularly diesel. Experts assess it could save up to 8-10 billion US dollars in foreign exchange annually. Development from B1 to B50 is targeted for completion by July 2026.

The government has enabled higher ethanol blends in gasoline, sparking a debate in the agricultural sector over increased production, investments, and reduced import dependence. In San Francisco, Córdoba, a station for the state fleet was opened to boost biofuel use.

Dilaporkan oleh AI

Tensions between the United States and Iran have disrupted energy supplies through the Strait of Hormuz in March 2026, spiking oil and LNG prices and affecting Indonesia. The country relies on imported fossil fuels but holds opportunities from critical mineral reserves. Experts recommend accelerating electric vehicle adoption and leveraging natural resources.

Finance Minister Purbaya Yudhi Sadewa urged the public not to panic amid uncertain global conditions, assuring that fiscal and state revenue positions remain safe. He highlighted a Rp 420 trillion Saldo Anggaran Lebih (SAL) as a layered defense. The decision to hold subsidized fuel (BBM) prices steady until the end of 2026 follows direct instructions from President Prabowo Subianto.

Dilaporkan oleh AI

President Lula's government presented a bill to Congress on April 23, 2026, allowing PIS/Cofins cuts on gasoline, ethanol, diesel, and biodiesel using extraordinary oil revenues. The measure addresses a 61% rise in gasoline import costs driven by the war in Iran, per ANP data. Officials state the cuts will be partial and temporary, possibly for two months.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak