Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mengganggu pasokan energi melalui Selat Hormuz pada Maret 2026, memicu lonjakan harga minyak dan LNG yang memengaruhi Indonesia. Negara ini bergantung pada impor energi fosil, tetapi memiliki peluang dari cadangan mineral kritis. Pakar menyarankan percepatan adopsi kendaraan listrik dan pemanfaatan sumber daya alam.
Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan gangguan distribusi energi global melalui Selat Hormuz pada Maret 2026. Hal ini memicu lonjakan signifikan harga minyak dan liquefied natural gas (LNG), mengingat ketergantungan tinggi pada energi fosil impor, termasuk di Indonesia.
Indonesia memiliki cadangan mineral kritis yang melimpah, seperti nikel 6,74 miliar ton sumber daya dan 3,13 miliar ton cadangan, tembaga 18,336 miliar ton sumber daya dan 2,86 miliar ton cadangan, bauksit 7,79 miliar ton bijih mentah, serta timah 8,27 miliar meter kubik sumber daya, menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral per Desember 2024. Fabby Tumiwa, CEO Institute for Essential Services Reform, menyatakan, “Di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan persaingan global atas mineral kritis, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis karena cadangan nikelnya, tembaga, bauksit, dan timah menjadi fondasi utama industri.”
Percepatan adopsi kendaraan listrik dinilai strategis untuk meredam dampak lonjakan harga minyak terhadap APBN. Martinus Pasaribu, pengamat otomotif, menyebut 60-70 persen kebutuhan minyak nasional dari impor, dengan produksi domestik sekitar 600 ribu barel per hari. Kenaikan harga minyak US$1 per barel bisa tambah subsidi Rp8-10 triliun, dan dengan harga US$90-100 per barel, subsidi berpotensi Rp300 triliun per tahun.
Penggunaan 1 juta mobil listrik hemat 1,25 juta kiloliter BBM per tahun, sementara 5 juta motor listrik hemat 1,75 juta kiloliter, total Rp30-40 triliun penghematan devisa. Martinus menekankan kebijakan terintegrasi untuk insentif, infrastruktur pengisian daya, dan ekosistem industri kendaraan listrik.