Rory William Docherty memperkenalkan koleksi siap pakai musim gugur 2026

Desainer berbasis di Selandia Baru Rory William Docherty mengambil inspirasi dari kunjungan ke Pulau Lewis dan Harris di Outer Hebrides, Skotlandia, untuk koleksi siap pakai musim gugur 2026-nya. Koleksi ini menekankan keahlian kerajinan melalui Harris Tweed dan bahan tradisional lainnya. Docherty bertujuan menyeimbangkan kepraktisan dan puisi dalam desain tahan lamanya.

Rory William Docherty, desainer dengan akar Skotlandia yang berbasis di Selandia Baru, mengembangkan koleksi siap pakai musim gugur 2026 setelah perjalanan ke Kepulauan Britania. Setelah menampilkan pertunjukan sebelumnya di London pada September lalu, koleksi ini mencerminkan pengaruh dari Pulau Lewis dan Harris yang tertiup angin kencang. Di sana, Docherty terhubung dengan Harris Tweed, kain tradisional yang dikenal karena regulasi dan perlindungannya. „Kami menjalin hubungan dengan Harris Tweed,“ katanya.  Observing the hand-weaving of single-origin wool on looms inspired him. „Sungguh menginspirasi melihat tingkat keahlian kerajinan yang telah ada selama berabad-abad,“ tambah Docherty. Ia memulai proses desainnya dengan pastel dan cat minyak untuk menggambarkan pola herringbone chevron kain tersebut secara abstrak. Motif-motif ini muncul pada kemeja sutra, dasi, gaun dengan rok bubble bertingkat, dan mantel beludru sutra dengan kerah shawl serta bahu yang dilebih-lebihkan mengingatkan pada musim-musim sebelumnya.  Mendukung pengrajin lokal, Docherty memasukkan wol Selandia Baru 100 persen untuk isian, manik-manik kaca ditiup, kasmir Skotlandia, dan rajutan dari India. Koleksi ini berkembang secara halus setiap musim demi ketahanan jangka panjang, mirip jaket beludru biru berusia 47 tahun miliknya sendiri yang diwarisi dari ayahnya. Bentuk-bentuk terinspirasi dari era 1970-an dan 1980-an, termasuk draping dan bahu lebar, sembari menambahkan kehangatan lewat leher corong longgar, stole wol tersikat, celana balon berwarna ungu heather, serta kemeja katun pinstripe yang dapat dilipat menjadi tudung.  Sebagai desainer yang berfokus pada sentuhan, Docherty menggunakan beludru sutra remuk pada gaun tunik hitam dan di bawah setelan untuk membangkitkan sentuhan manusia. Potongan taffeta dalam warna sampanye, pink keabu-abuan, amethyst, dan biru langit terinspirasi dari warna busa laut berkilauan. Item unggulan menampilkan panel trapezoidal dari kayu ebonized asal Aotearoa, yang dibuat oleh pasangannya Jordan Draffin, yang memiliki warisan Māori dan Skotlandia. Pola tersebut menyerupai seni anyaman tukutuku Māori tradisional serta herringbone Harris Tweed. „Ini pola yang sangat unik, tapi seolah ada kesamaan yang menghubungkan semua budaya. Dan saya merasa itu hal yang indah sekali, terutama saat ini,“ ujar Docherty. Ia ingin memperkuat keahlian kerajinan pada pakaian praktis dan tahan lama. „Itulah semacam yang saya inginkan dari pakaian saya: keseimbangan antara praktis dan puitis,“ jelasnya.

Artikel Terkait

Runway model showcasing Mossi Fall 2026 ready-to-wear collection in a Vogue-featured fashion show.
Gambar dihasilkan oleh AI

Mossi presents fall 2026 ready-to-wear collection

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Vogue has published coverage of the Mossi fall 2026 ready-to-wear collection. The review features runway looks, beauty details, models, and expert analysis. This presentation forms part of the broader fall 2026 ready-to-wear fashion season.

Designer Duro Olowu presented his fall 2026 ready-to-wear collection at the Sadie Coles gallery in London, emphasizing clean lines and black fabrics. The show drew from 1970s influences tied to his Jamaican heritage. Attendees praised the modern reinterpretations of vintage styles.

Dilaporkan oleh AI

Designer Steve O Smith has presented his Fall 2026 ready-to-wear collection, incorporating color for the first time in his signature illustrative style. Drawing from 1920s influences like Otto Dix, Edward Burra, and Madeleine Vionnet, the pieces feature hand-dyed tulle and beaded details. Smith used funds from last year's LVMH Prize to build a couture-trained team in London.

Loro Piana showcased its fall 2026 menswear collection during Milan fashion week, emphasizing luxury textiles over seasonal trends. The presentation drew on a theme of a cross-continent train journey from Normandy to Persia, featuring paisley patterns and regional influences. The collection highlights the brand's focus on connoisseurship through proprietary fabrics like Royal Lightness and Gift Of Kings.

Dilaporkan oleh AI

Ermanno Scervino presented his fall 2026 ready-to-wear collection at Milan Fashion Week, blending 25 years of signature techniques with fresh perspectives on silhouettes and fabrics. The show featured contradictions like 1950s glamour and tailored rigor, set to Mina's soundtrack with Italian singer Giorgia in the front row. Scervino described it as a love letter to women, emphasizing harmony and sensuality.

Belgian designer Meryll Rogge unveiled her first collection as Marni's creative director during Milan Fashion Week on February 26, 2026. The show returned the brand to its foundational codes established by founder Consuelo Castiglioni, emphasizing wearability and subtle references to archival pieces. Industry reactions praised the modern reinterpretation of Marni's quirky, anti-glamour aesthetic.

Dilaporkan oleh AI

Schiaparelli creative director Daniel Roseberry led British Vogue's Chioma Nnadi through the Victoria & Albert Museum's new exhibit on the fashion house. The display, titled Schiaparelli: Fashion Becomes Art, features pieces from Elsa Schiaparelli's era alongside Roseberry's modern designs. Highlights include early knitwear and innovative couture jackets.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak